You're alive. Do something. The directive in life, the moral imperative was so uncomplicated. It could be expressed in single words, not complete sentences. It sounded like this : " Look. Listen. Choose. Act ! "
Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Archives

Duhai senangnya...



Idealya tugas Pustakawan bukanlah sekedar menyelesaikan rentetan proses akuisisi, inventarisasi, klasifikasi, katalogisasi, labelisasi bahan pustaka saja. Akan tetapi, ada sebuah tugas yang tidak kalah pentingnya, yaitu ikut berperan dalam meningkatkan minat baca. Saya -yang adalah seorang pustakawan sekolah- sebenarnya ikut bertanggung jawab dalam upaya peningkatan minat baca siswa. Sebagai seorang muslim yang meyakini bahwa setiap kita akan dituntut terhadap segala tanggung jawabnya (kullukum raa'in wa kullukum masuulun 'an ra'iyyatih) maka, sayapun berusaha keras untuk "bertanggung jawab" terhadap setiap tugas yang dibebankan pada saya dan telah saya sanggupi. Meskipun terkadang hasilnya sangat tidak memuaskan, atau jauh dari target dan tidak sesuai dengan upaya maksimal yang telah kita tempuh selama proses. Tapi, memang inilah hidup, tidak ada yang sempurna kecuali Dia Yang Maha Sempurna.


Terus terang, hari pertama menjejakkan kaki di perpustakaan ini, waktu itu saya kaget bukan kepalang. Menilik betapa rendahnya minat baca siswa di sini. Bahkan untuk sekedar mengenal beberapa item buku baru yang sangat populerpun mereka tidak "ngehh". Astaghfirullahal'adziim. Sedemikian parahnya... Saat itu, seketika terbersit dalam hatiku, hal ini tidak bisa dibiarkan. Saya berfikir untuk menemukan sebuah cara yang mampu saya tempuh untuk membantu meningkatkan minat baca siswa di sini, paling tidak untuk membuat mereka sedikit "sadar" dan peduli terhadap urgensi minat baca dalam proses akademik mereka. Ada benang merah antara prestasi akademik dan minat baca, sayangnya hal itu tidak sepenuhnya mereka sadari.


Sebuah PR yang lumayan berat pemecahannya, ibarat sebuah soal matematika kombinasi logaritma, matrix dan persamaan diferensial. Bisa nggak ya ? Mungkin nggak Ya ? Sepulang dari workshop Pustakawan Sekolah Se-Jatim di UIN Sunan Ampel Surabaya, dengan semangat 45 nan berkobar membara, terinspirasi oleh deskripsi beberapa teman dari sekolah di kota lain yang cukup maju, saya menggagas dua kegiatan yang saya harapkan mampu membantu proses peningkatan minat baca siswa. Yaitu : 1) Mading / Majalah Dinding per jurusan yang pelaksanaannya dibawah bimbingan Perpustakaan Sekolah. 2) Pembentukan Klub Baca sebagai salah satu alternatif ekstra kurikuler. Lalu saya kemukakan ide tersebut kepada Koordinator Perpustakaan. Beliaupun sanggup menjembatani ide saya supaya bisa tembus persetujuan Kepsek. Proposalpun saya susun dengan penuh semangat dan besar harapan untuk disetujui. Akan tetapi kekecewaanlah yang harus saya telan, karena sampai saat ini tidak ada kabar dari Kepsek terkait hal tersebut. Begitu saya konfirmasi ke Koordinator, jawaban beliau adalah masih banyak agenda lain yang jauh lebih penting, diantaranya agenda audit dan review ISO 9001-2000. Kecewa dan kecewa, tapi sekali lagi itulah hidup. Saya tidak boleh berhenti sampai di sini saja dan kemudian berputus asa. The show must go on...life doesn't end yet...hingga suatu ketika...


Merujuk pada kata pepatah “Tak ada rotan akarpun jadi.” Yang sekaligus sedikit mengobati kekecewaan saya. Saya menggagas sebuah diskusi kecil, tanpa konsep, sekedar spontanitas. Begitu melihat siswa yang rajin berkunjung ke perpustakaan langsung saya dekati dan saya ajak diskusi dimulai dengan percakapan ringan dengan topik buku-buku bermuatan ringan pula. Seiring waktu, bertambahlah ‘target’ sasaran, bukan hanya siswa yang rajin ke perpustakaan, akan tetapi juga mereka yang jarang kelihatan di perpustakaan. Dan suatu waktu, beberapa ‘target’ tersebut saya ajak berkumpul dan berdiskusi bersama.


Subhanallah…sungguh Allah Maha Pemurah. Sebuah jawaban datang menghampiri kekecewaan di sudut hati, menjadi pelipur lara dan pengobat luka. Sekarang mereka (anggota kelompok kecil diskusi kami) telah menunjukkan peningkatan minat baca. Perpustakaan kami yang cukup besar ini bukan sekedar menjadi tempat koleksi berbagai referensi dan bahan pustaka yang bejibun, akan tetapi, kini pun menjadi tempat diskusi yang mengasyikkan. Buku-buku yang dulunya masih dalam kondisi rapi dan bersih karena tidak pernah dipinjam, kini tidak pernah tampak di etalase, artinya sedang dipinjam. Bila sewaktu-waktu bertemu saya, teman-teman kecil saya ini tak segan-segan memancing saya berdiskusi dengan tema-tema yang mereka sadur dari buku-buku yang mereka baca. Alangkah senangnya hati ini mendengar apa yang mereka bicarakan seputar karya-karya besar seperti Laa Tahzan, Ihya’ Ulumuddin, Being Happy, Mind Energizer, 7 Habits dan buku-buku pengembangan diri lainnya.


Meskipun masih jauh dari hasil yang saya harapkan, akan tetapi paling tidak upaya saya sedikit banyak telah membuahkan hasil. Tidak sia-sialah apa yang telah saya usahakan. Meskipun prosentasenya masih sangat kecil, justru menjadi pemacu semangat saya untuk meneruskan upaya ini.


Saya harapkan di masa datang akan bermunculan Muslimah, Dini, Maulana, Datan, Feri Kusuma, Egar, Wahyudi dan kawan-kawan yang akan tetap menemani saya berdiskusi tentang banyak hal bermula dari buku. Saya ingin, teman-teman kecil ini akan terus bertambah dan bertambah, ikut serta membudayakan membaca. Berawal dari sebuah diskusi kecil untuk mengubah iklim sekolah ini dari yang semula sangat miskin akan budaya baca menjadi sebuah lingkungan yang akrab dengan tema-tema aktual bersumber dari buku.

Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

Category:   Leave a Comment
25 Pesan Luqman Al-Hakim kepada anak-anaknya:


01 - Hai anakku: ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan
lautan yg dalam, banyak manusia yg karam ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat,
agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan SAMPAN yg bernama TAKWA,ISInya ialah IMAN dan LAYARnya adalah TAWAKKAL kepada ALLAH.

02 - orang - orang yg sentiasa menyediakan dirinya utk menerima nasihat,maka dirinya akan mendapat penjagaan dari ALLAH. Orang yg insaf dan sedar setalah menerima nasihat orang lain, dia akan sentiasa menerima kemulian dari ALLAH juga.

03 - Hai anakku; orang yg merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kpd ALLAH, maka dia tawadduk kepada ALLAH, dia akan lebih dekat kepada ALLAH dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepada ALLAH.

04 - Hai anakku; seandainya ibubapamu marah kepadamu kerana kesilapan yang dilakukanmu, maka marahnya ibubapamu adalah bagaikan bajak bagi tanam tanaman.

05 - Jauhkan dirimu dari berhutang, kerana sesungguhnya berhutang itu boleh menjadikan dirimu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.

06 - Dan selalulah berharap kpd ALLAH tentang sesuatu yg menyebabkan untuk tidak mendurhakai ALLAH. Takutlah kpd ALLAH dengan sebenar benar takut ( takwa ), tentulah engkau akan terlepas dari sifat berputus asa dari rahmat ALLAH.

07 - Hai anakku; seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya kerana tidak dipercayai orang dan seorang yg telah rosak akhlaknya akan sentiasa banyak melamunkan hal hal yg tidak benar. Ketahuilah, memindahkan batu besar dr tempatnya semula itu lebih mudah drpd memberi pengertian kpd orang yg tidak mahu mengerti.

08 - Hai anakku; engkau telah merasakan betapa beratnya mengankat batu besar dan besi yg amat berat, tetapi akan lebih lagi drpd semua itu,adalah bilamana engkau mempunyai tetangga (jiran) yg jahat.

09 - Hai anakku; janganlah engkau mengirimkan orang yg bodoh sebagai utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdik, sebaiknya dirimulah saja yang layak menjadi utusan.

10 - Jauhilah bersifat dusta, sebab dusta itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit sahaja berdusta itu telah memberikan akibat yg berbahaya.

11 - Hai anakku; bila engkau mempunyai dua pilihan, takziah orang mati atau hadir majlis perkahwinan, pilihlah utk menziarahi orang mati, sebab ianya akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedangkan menghadiri pesta perkahwinan hanya mengingatkan dirimu kepada
kesenangan duniawi sahaja.

12 - janganlah engkau makan sampai kenyang yg berlebihan, kerana sesungguhnya makan yg terlalu kenyang itu adalah lebih baiknya bila makanan itu diberikan kpd anjing sahaja.

13 - Hai anakku; janganlah engkau langsung menelan sahaja kerana manisnya barang dan janganlah langsung memuntahkan saja pahitnya sesuatu barang itu, kerana manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu belum tentu menimbulkan kesengsaraan.

14 - Makanlah makananmu bersama sama dengan orang orang yg takwa dan musyawarahlah urusanmu dengan para alim ulamak dengan cara meminta nasihat dari mereka.

15 - Hai anakku; bukanlah satu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah bagaikan orang yg mencari kayu bakar, maka setelah banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih mahu menambahkannya.

16 - Hai anakku; bilamana engkau mahu mencari kawan sejati, maka ujilahterlebih dahulu dengan berpura pura membuat dia marah. Bilamana dalam kemarahan itu dia masih berusaha menginsafkan kamu,maka bolehlah engkau mengambil dia sebagai kawan. Bila tidak demikian, maka berhati-hatilah.

17 - selalulah baik tuturkata dan halus budibahasamu serta manis wajahmu, dengan demikian engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yg pernah memberikan barang yg berharga.

18 - Hai anakku; bila engkau berteman, tempatkanlah dirimu padanyasebagai orang yg tidak mengharapkan sesuatu daripadanya. Namun biarkanlah dia yg mengharapkan sesuatu darimu.

19 - Jadikanlah dirimu dalam segala tingkahlaku sebagai orang yg tidak ingin menerima pujian atau mengharap sanjungan orang lain kerana itu adalah sifat riya' yg akan mendatangkan cela pd dirimu.

20 - Hai anakku; janganlah engkau condong kpd urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan olah dunia saja kerana engkau diciptakan ALLAH bukanlah untuk dunia sahaja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih hina daripada orang yang terpedaya dengan dunianya.

21 - Hai anakku; usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata
kata yg busuk dan kotor serta kasar, kerana engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.

22 - Hai anakku; janganlah engkau mudah ketawa kalau bukan kerana sesuatu yg menggelikan, janganlah engkau berjalan tanpa tujuan yg pasti, janganlah engkau bertanya sesuatun yang tidak ada guna bagimu, janganlah mensia-siakan hartamu.

23 - Barang sesiapa yg penyayang tentu akan disayangi, sesiapa yg pendiam akan selamat daripada berkata yg mengandungi racun, dan sesiapa yg tidak dapat menahan lidahnya dr berkata kotor tentu akan menyesal.

24 - Hai anakku; bergaullah rapat dengan orang yg alim lagi berilmu. Perhatikanlah kata nasihatnya kerana sesungguhnya sejuklah hati ini mendengarkan nasihatnya, hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah dari mutiara kata katanya bagaikan tanah yg subur lalu disirami air hujan.

25 - Hai anakku; ambillah harta dunia sekadar keperluanmu sahaja, dan nafkahkanlah yg selebihnya untuk bekalan akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang atau bakul sampah kerana nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain.
Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya kerana sesungguhnya yg engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah engkau bertemankan dengan orang yg bersifat talam dua muka, kelak akan membinasakan dirimu.

(source : www.geocities.com )

Category:   Leave a Comment
KENANGAN


Bila kita mengendarai sepeda motor atau menyetir mobil, apakah yang akan kita lakukan terhadap kaca spion? Tentu jawaban kita akan sama yaitu : “Sesekali melihatnya bila perlu”. Yup, that’s right. Kaca spion didesain bukan sebagai aksesoris pelengkap saja, akan tetapi sebagai salah satu bentuk system pengamanan bagi pengendara motor atau mobil. Secara reflek kita melihat kaca spion kendaraan kita ketika ingin mendahului atau hendak memutus (baca:menyeberang) jalan, juga ketika kita mau belok atau memutar arah. Yang jelas, kaca spion sedikit banyak membantu pengendara dalam mengatur kenyamanan dan keamanan saat berkendara. “A small thing, but not least”. Meskipun kecil, tapi bukan hal yang remeh. Namun bukan berarti keselamatan pengendara tergantung pada seberapa sering dia menengok kaca spionnya lho ya, karena dalam eksplorasi segala hal, dibutuhkan aturan main, takaran, porsi yang tepat. Terlalu sering melihat kaca spion justru membahayakan. Karena bisa jadi tidak konsentrasi dengan kondisi jalan di depan kita. Padahal itu lebih penting.


Demikian halnya dengan kenangan-kenangan dalam hidup kita. Baik yang indah maupun buruk, seyogyanya kita sikapi sebagaimana kita menyikapi kaca spion saat kita berkendara. Terlalu larut dalam kenangan masa lalu akan membuat kita tak berkonsentrasi menghadapi masa depan yang jauh lebih penting daripada kenangan itu sendiri. Sebaliknya bila kita menghapus segala bentuk kenangan dalam hidup, kita akan menjadi pribadi yang angkuh. Bukankah dalam peradaban suatu bangsa, peran sejarahnya tidak bisa dianggap sepele? Sejarah ikut menentukan kondisi suatu bangsa saat ini.


Semua orang pasti punya kenangan indah dalam hidupnya. Bisa saja di masa kecilnya, saat remajanya, atau ketika dia beranjak dewasa, atau bahkan saat menua. Diantara sekian banyak kenangan ada yang indah ada yang buruk. Menengok kenangan indah bisa menambah gairah dalam hidup, memacu semangat untuk terus maju. Sedangkan mengingat kenangan buruk bisa dijadikan renungan untuk instrospeksi diri, agar tidak terulang kejadian yang sama di masa datang. Mengenang hal-hal lucu dan kekonyolan di masa lalu bisa menghibur diri sejenak dari kepenatan.


Seperti halnya kaca spion, kenangan-kenangan itu juga mempunyai peran dalam “pengamanan” perjalanan hidup kita. Yaitu menjadikan kita lebih berhati-hati dalam melangkah, menimbang-nimbang lebih seksama dalam mengambil keputusan. Agar kenangan buruk tentang kecerobohan atau ketidak tahuan kita di masa lalu tidak menuai akibat yang sama di masa depan. “ Dulu, aku demikian dan berakibat demikian.” Sehingga kenangan bisa berrfungsi sebagai salah satu neraca dalam kita menimbang setiap pilihan dan keputusan. Kecuali bila kita adalah keledai, karena hanya keledai yang terperosok ke lubang yang sama dua kali. Manusia tidak, karena manusia menimbang salah satunya dengan kenangan, sedangkan keledai tidak punya ingatan tentang kenangan.


Adapula kenangan-kenangan indah yang tak terhapuskan dari “hati”. Kenangan tentang hati yang mencoba saling menawar. Tentang seseorang yang dirasa kehadirannya begitu special dalam perjalanan sejarah hidup kita. Kenangan tersebut bisa “menghidupkan” kembali semangat kita seperti pada saat itu, disaat special person tersebut hadir, menjadi bagian dari kisah kita. Kita tidak perlu menghidupkan kembali “rasa” di hati kita, tapi kita bisa menghidupkan kembali “semangat” yang kita rasakan saat itu.


Perlu diingat, sekali lagi dalam mengeksplorasi kenangan ada takarannya, aturan pakainya, porsi dan batasannya. Jangan sampai over dosis. Karena orang yang mengendarai motor dengan terus-menerus melihat kaca spion sangat berbahaya. Porsi yang berlebihan dalam mengeksplorasi kenangan buruk akan berakibat trauma. Sedangkan mengingat kenangan indah secara berlebihan membuat kita lalai, lengah dan lupa akan masa depan yang lebih menentukan perjalanan kita selanjutnya.


Lalu seberapa porsi dan apa batasan mengeksplorasi kenangan ? Mari kita analogikan saja dengan seberapa sering dan kapan kita perlu menengok kaca spion motor selama kita berkendara. Mari kita jadikan kenangan-kenangan itu seumpama kaca spion yang merupakan salah satu system pengamanan diri dalam perjalanan panjang hidup kita, tentunya agar kita tidak lagi mengulang-ulang kesalahan dan kecerobohan kita di masa lalu untuk masa mendatang.

Category:   Leave a Comment
PERAN PERPUSTAKKAN DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA

PENGANTAR

Seseorang dengan kacamata minus akan diasumsikan sebagai sosok gemar membaca, kutu buku. Padahal, tidaklah demikian yang terjadi. Seseorang yang berkutat dengan kumpulan buku-buku belum tentu sebagai seorang kutu buku. Ada kemungkinan orang tersebut mempunyai kegemaran mengumpulkan buku, atau orang tersebut hanya sebagai penggemar gambar tertentu yang terdapat dalam tumpukan bukunya untuk dikoleksi. Akan tetapi, kita tidak bisa mungkir jika melihat seseorang membawa buku secara spontan kita berpikir bahwa buku tersebut sedang dibaca. Sependapatkah anda? Buku atau apapun koleksi karya cetak yang bisa dibaca merupakan gudang informasi, ilmu pengetahuan. Apapun yang didapat melalui bacaan (sesudah membaca) membuka mata hati kita mengenal dunia. Dunia apa saja yang bisa diperoleh lewat sumber bacaan tadi.

Perkembangan teknologi informasi, tidak akan menggilas kebiasaan seseorang untuk membaca sumber bahan cetak. Hal ini dikarenakan, membaca dengan karya cetak (buku/majalah/koran, dan sebagainya) lebih nikmat tanpa beban, dibandingkan dengan membaca informasi melalui media elektronik (informasi via internet). Selain itu, disebabkan pula pemerataan kesempatan agar bisa membaca untuk mendapat informasi belum menyeluruh. Dalam dunia belajar mengajar atau pendidikan dan pengajaran belum dibiasakan membaca sebagai kewajiban. Para pendidik/guru pun belum sepenuhny menerapkan kebiasaan membaca, baik di rumah atau lingkungan sekolah. Padahal, dengan membaca seseorang mendapat informasi yang dibutuhkan sebagai bekal ilmu menjalani tantangan hidup.

Kegiatan membaca berkaitan dengan ketersediaan sarana bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan jenis informasinya (kelompok usia). Oleh karena itu, siapapun yang ingin berperan sebagai perantara penyampai ilmu pengetahuan (transfer informasi) haruslah mengajak serta mendorong seseorang agar melek huruf (membaca) terlebih dahulu. Perlu kiranya kita ketahui, bahwa urusan melek huruf bukanlah urusan guru/pendidik semata, akan tetapi harus menjadi urusan kita bersama. Dengan demikian, cita-cita menjadi bangsa yang cerdas sudah selayaknya menjadi cita-cita setiap warga negara. Prestasi setiap warga negara bertumpu pada kemajuan bangsa. Jadi, siapakah yang bertanggungjawab jika masih ada saudara kita yang belum melek huruf, sehingga belum bisa membaca? Bagaimana menumbuhkan budaya gemar membaca, kalau belum melek huruf? Harus diakui bersama, bahwa budaya lisan masih mengental dalam diri kita. Inilah salah satu faktor penghambat tumbuhnya budaya gemar membaca. Akan tetapi kita harus memulainya, sebagaimana kata orang bijak yakni lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali! Ada sedikit pengalaman yang bisa dibagi, bahwa minat baca bisa dimulai dari keluarga sendiri. Kedua anak kami, menurut pengamatan kami termasuk golongan gemar membaca. Akan tetapi, keduanya memulai dengan cara yang beda. Anak pertama menjadi gemar baca karena masa balita sering mendengar cerita pengantar tidur dari kami. Setelah bisa baca, ingin mengulangi cerita-cerita dengan membaca sendiri. Sementara, anak kedua gemar membaca bersamaan dengan meningkatnya kepintaran dalam membaca yang diajarkan di sekolah. Kebiasaan membaca ternyata tidak harus dimulai dengan melek huruf. Hal terpenting adalah kemauan untuk memulai.


GEMAR BACA ATAU MINAT BACA

GEMAR MEMBACA…TANGGUNG JAWAB SIAPA?

Pengertian

Gemar artinya suka, senang sekali. Sementara minat yaitu perhatian, kesukaan/kecenderungan hati akan sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Jadi gemar membaca dapat diartikan sebagai kesukaan akan membaca, ada kecenderungan hati ingin membaca. Menurut Suhaenah Suparno minat baca seseorang seharusnya diukur berdasarkan frekuensi dan jumlah bacaan yang dibaca selain buku pelajaran (dalam Abdul Rahman, 2005:122). Dengan demikian minat baca seseorang berimbas kepada jumlah koleksi yang pernah dibaca yang bersangkutan (bukan buku pelajaran/modul/buku paket sekolah). Adapun koleksi bacaan yang dikonsumsi bisa diperoleh dari mana pun juga. Hal ini berkaitan dengan peran toko buku, taman bacaan, atau perpustakaan. Bilamana minat baca sudah tumbuh, maka dibutuhkan fasilitas (buku/majalah/koran, dan sebainya) yang memadai. Suatu kenyataan jika, di ranah Indonesia ini masih sedikit yang memiliki koleksi bacaan sendiri. Sebagian besar koleksi diperoleh dengan meminjam atau membaca di sebuah kedai/toko buku atau perpustakaan. Bahkan bagi mereka yang mampu (dana berlebih) bisa mengakses melalui internet, pun memiliki perpustakaan sendiri. Dengan demikian, adanya minat baca sehingga gemar membaca belumlah merata. Kembali pada pertanyaan di atas, siapakah yang harus menumbuhkan budaya gemar membaca? Harapan kita tentunya, jika melek huruf sudah terjadi, seseorang akan berminat untuk membaca segala sesuatu, selanjutnya menjadi gemar membaca.


PERAN PERPUSTAKAAN DALAM BUDAYA GEMAR MEMBACA

Berdasarkan undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan bahwa budaya gemar membaca menjadi tanggungjawab keluarga, satuan pendidikan (sekolah), masyarakat, maupun pemerintah. Sebagaimana bunyi undang-undang tentang perpustakaan pasal 48 berikut ini.

  1. Pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat.
  2. Pembudayaan kegemaran membaca pada keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh Pemerintah dan pemerintah daerah melalui buku murah dan berkualitas.
  3. Pembudayaan kegemaran membaca pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai proses pembelajaran.
  4. Pembudayaan kegemaran membaca pada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui penyediaan sarana perpustakaan di tempat-tempat umum yang mudah dijangkau, murah, dan bermutu.

Jelas kiranya, bahwa gemar membaca menjadi tanggungjawab bersama seluruh warga negara dalam upaya mencerdaskan bangsa. Adapun fasilitas yang disediakan memang sangat tergantung pada bagian penyedia informasi, yang salah satunya yakni perpustakaan. Meskipun dalam pasal tersebut jelas dinyatakan bahwa budaya gemar membaca difasilitasi oleh pemerintah melalui buku murah dan berkualitas. Kenyataannya, buku yang murah pun tidak terbeli bagi masyarakat kebanyakan. Lalu ke mana para pemburu bacaan mencari “makanan”? Jawaban yang lebih pas yakni perpustakaan, taman bacaan, maupun tempat-tempat penyedia fasilitas secara gratis, tanpa bea yang pasti. Harus diakui, itulah gambaran budaya gemar membaca di tanah air kita. Pemerataan kesempatan mendapat pendidikan agar dapat membaca maupun kursus-kursus kejar paket tertentu dalam rangka pemberantasan buta aksara belumlah optimal. Oleh karena itu, mari kita berlomba untuk memberikan fasilitas pembudayaan gemar membaca. Sebagaimana dinyatakan dalam pasal tersebut di atas, kita mulai dari keluarga kita, mulai dari diri sendiri (mengutip pendapat AA Gym).
Melalui pasal 51 dari undang-undang yang sama dinyatakan bahwa pembudayaan gemar membaca dilakukan melalui gerakan nasional gemar membaca, dan dilaksanakan oleh pemerintah yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi perpustakaan pun wajib berperan aktif dengan menyediakan karya tulis, karya cetak, dan karya rekam. Ternyata, perpustakaan tetap menjadi tumpuan harapan dalam pelaksanaan budaya gemar membaca. Anehnya, sampai saat ini masih banyak yang enggan berhubungan dengan perpustakaan. Tidak perlulah menutup mata bahwa belum setiap satuan pendidikan (sekolah) mempunyai/menyelenggarakan perpustakaan sesuai yang dinyatakan dalam undang-undang tentang perpustakaan. Oleh karena itu, ayolah para petugas di dalam jajaran satuan pendidikan (sekolah) untuk melaksanakan kewajiban, demi mencerdaskan bangsa. Tentu saja peran keluarga dan masyarakat juga diaktifkan. Bagaimanapun satuan pendidikan (sekolah) kita masih banyak yang belum sepenuhnya mempunyai fasilitas yang memadai. Bahkan tidak sedikit gedung untuk tempat belajar runtuh, tidak layak pakai, rapuh karena mudah hancur karena hujan atau angin, sehingga menimbulkan korban pula.


PENUTUP

Mari kita saling bergandeng tangan merapatkan barisan menggiring pertumbuhan budaya gemar membaca. Alangkah baik jika dimulai dari diri sendiri, dari keluarga, menuju keluarga yang makin besar, desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, hingga propinsi, akhirnya seluruh bangsa gemar membaca. Memulai suatu kebaikan memang sulit, tapi harus dilakukan.


DAFTAR PUSTAKA


Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1976.
Abdul Rahman Saleh. “Peningkatan Budaya Gemar Membaca” dalam PERKEMBANGAN PERPUSTAKAAN DI INDONESIA. BOGOR: IPB PRESS, 2005


DI ANTARA SUJUD PANJANGKU


Wahai Engkau Yang Maha Hidup, Sang Pencipta kehidupan

Hanya kepada-Mulah kuadukan setiap episode misteri hidupku

Bagai petualangan tiada kunjung dapat kupecahkan

Bak elegi tak kunjung kudapati jawaban

Meski t’lah kutelusuri pagi dan siang

Walau t’lah kucumbui malam demi malam


Wahai Engkau Yang Maha Rahman, Sang Penghadir Cinta

Damaikanlah hati hamba yang kian rindu membiru

Tuntunlah ia menuju hakikat Cinta-Mu

Cinta nan suci jauh dari ego dan nafsu

Cinta yang bukan sekedar roman dan syair syahdu

Bukan sekedar pengembaraan akal yang liar dan nalar beradu


Wahai Engkau Maha Pemberi Petunjuk

Sesungguhnya tiada daya hamba mengurai makna

Dari setiap episode masa dan segenap peristiwa

Yang kuanggap mulia ternyata bagi-Mu hina

Yang kuanggap remeh, bagi-Mu berharga

Maka tunjukkanlah aku pada setiap hakikatnya


Wahai Engkau Yang tiada pernah mengabaikanku

Dari setiap desir hembusan nafas tak terhingga

Dari setiap hitungan invinit katup kelopak mata

Tuntunlah aku dalam menentukan setiap keputusan

Bimbinglah hatiku dalam setiap pilihan

Jangan biarkan terlena dengan secawan anggur cinta memabukkan


Wahai Engkau Yaa Alloh Yaa Kariim

Di antara sujud panjangku kupasrahkan jiwaku

Di akhir istikharahku ku sandarkan keakuanku pada-Mu

Untuk setiap keputusan terbaik menurutmu

Bukan sekedar ujung perjalanan egoku

Bukan secawan anggur tapi untuk segelas madu

Category:   Leave a Comment
SANG WAKTU TAK MEMIHAK


Sungguh kadang sang waktu tak memihak

Tatkala kalbu menawar tuk beranjak

Di saat ingin, sang waktu menghantar hujan

Ketika cerah, aku tak enak badan


Betapa sering sang waktu tak memihak

Saat aku butuh, dia nun jauh

Ketika semua baik-baik saja

Diapun baru saja tiba


Alangkah sang waktu tak memihak

Saat masih sendiri, tiada kabar menghampiri

Kini tibalah sua, namun aku dan dia

‘tlah sama-sama berdua


Apa maksud sang waktu

Kenapa sering tak berkompromi

Tak mau tahu suasana hati

Tak mau peduli siapa yang kunanti


Tak apalah jika sang waktu tak memihak

Tak jualah sesal mengulang masa

Jikalau saja aku bisa memutar kembali sang waktu

Takkan kubiarkan engkau beranjak dariku

Category:   Leave a Comment
BELAJAR DARI KUPU-KUPU



Hari itu, aku menghabiskan Ahad pagiku dengan bersantai, berjalan-jalan di kebun sembari menghirup segarnya udara pagi dan menjadi saksi terbitnya sang mentari. Menikmati sejuknya tetesan embun bergulir di antara dedaun, bercengkrama dengan aneka ragam bunga mekar bersemi, mewangi dihembus sang bayu.

Di tengah perjalananku, aku melihat seekor kepompong di batang pohon Jauhar. Ujungnya berdegup kemudian robek, ohh…ternyata si kupu-kupu kecil hendak membebaskan diri dari belenggu kepompongnya. Setelah sekian hari bersemedi, kini kupu-kupu itu siap menyambut kehidupan barunya yang indah, metamorfosis final dalam sejarahnya. Semula dia hanyalah binatang dengan wujud yang menjijikkan. Ulat, betapa semua orang menjauhinya. Tapi kini sebentar lagi dia akan memiliki rupa yang elok nan menawan, semua orang menyukainya.

Aku mengamati si kupu-kupu kecil yang kesulitan keluar dari kepompongnya. Rupanya lubang itu terlalu sempit untuk dia lewati. Aku perhatikan, sekali lagi aku amati. Hatiku tersentuh untuk membantunya, alangkah kasihan dia. Lalu aku ambil sebuah ranting kecil yang mengering, aku tusukkan pucuk ranting itu ke dinding kepompong untuk memperlebar lubang, si kupu-kupu kecilpun bisa keluar dengan mudah. Aku menunggu perkembangan selanjutnya. Aku ingin menyaksikan euforianya, aku menunggu dia terbang bebas ke angkasa nan tinggi menjulang tanpa batas.

Namun herannya, beberapa saat kemudian, kupu-kupu itu berjalan terseok-seok. Sesekali dia coba kepakkan sayap untuk terbang, tapi tak bisa. Gagal dan gagal lagi. Bahkan kini kulihat dia semakin rapuh, tubuhnya seolah melemah dan rentan. Dia terkapar, terjatuh dari dahan, menggelepar di atas rerumputan. Aku bertanya dalam hati, “ Adakah yang salah dengan tubuhnya?” Lalu kutepikan si kupu-kupu di bawah pohon yang rindang, kasihan sekali dia. Sayangnya aku harus pulang dan kembali bergelut dengan aktifitasku. Kuniatkan untuk menjenguknya lagi esok hari.

Besoknya, pagi-pagi sekali aku menengok si kupu-kupu kecil di kebun. Aku lihat dia tetap tergeletak lemah, tak berdaya. Sayapnya tak mampu mengepak, tubuhnya terkulai lesu. Aku tak bisa berbuat apa. Dalam hati bergemuruh tanya, “Apa yang salah?”

Belakangan baru aku tahu, aku telah berbuat kesalahan fatal. Perbuatan yang tadinya menurutku baik, justru ternyata merupakan sebuah kebodohan. Dengan merobek kulit kepompong untuk melebarkan lubang tempat keluarnya si kupu-kupu, ternyata aku telah merampas proses penguatan sayapnya. Seharusnya, ketika si kupu-kupu keluar dari kepompongnya dengan alami, melewati lubang sempit dengan penuh usaha dan kerja kerasnya, saat itulah terjadinya proses penguatan kedua sayapnya. Lubang kecil itu sudah di setting oleh Sang Maha Pencipta sebagai alat penguat sayap.

“Dengan mengalami kesulitan, kemudian berupaya melewatinya dengan kerja keras si kupu-kupu akan menjadi kuat dan sayapnya akan mengepak, melebar untuk siap terbang menyambut dunia.”

Sebuah pelajaran berharga dari si kupu-kupu. Berbagai cobaan, ujian, tantangan, hambatan yang Alloh SWT berikan dalam hidup kita, adalah proses penguatan pribadi kita.

Ketika teman, kerabat, sahabat kita mengadukan berbagai masalah pada kita, hal itu merupakan proses yang mematangkan kedewasaan kita.

Di kala orang-orang asing datang meminta bantuan kita, saat itulah jiwa kita berproses untuk memahami hakikat dalam cinta kasih.

Orang-orang yang tidak pernah mengalami kesulitan, ibarat si kupu-kupu yang kurobekkan kulit kepompongnya. Akan menjadi pribadi yang lemah, yang selalu mengandalkan orang tua dan kerabatnya, berlindung di balik tirai bernama keluarga. Padahal tiada yang kekal di dunia. Orang tua, keluarga, ada kalanya lebih dahulu berpulang, jika Sang Azza wa Jalla menghendaki. Kalau demikian, siapa lagi yang akan dia andalkan?

Sesungguhnya, tiada yang bisa kita andalkan kecuali diri kita sendiri, tiada yang bisa kita banggakan kecuali usaha kita sendiri. Dan Alloh-lah sebaik-baik tempat bersandar.

Mungkin Alloh SWT tidak selalu mengabulkan keinginan kita tapi Dia selalu memberikan apa yang kita butuhkan.

Category:   Leave a Comment