Archives
Di antara kecintaan kita sebagai manusia adalah rasa cinta yang berlebih kepada pasangan hidup (istri/suami) dan anak, selain harta perhiasan. Sifat gulw (berlebihan) ini, menurut agama dilarang, karena salah satu sifat buruk syetan. Untuk itu, sebesar apapun yang kita cintai dan sayangi di dunia ini harus karena Allah. Jika karena Allah, apapun yang terjadi dengan yang kita cintai, tidak akan ada sikap berlebihan, baik kesenangan ketika memilikinya, maupun kesedihan saat yang kita cintai meninggalkan kita. Dan tidaklah kehidupan di dunia ini kecuali cobaan dan ujian yang hasilnya dipetik di akhirat kelak. Sedalam apa keyakinan (iman) kita akan hal ini?
Mendengar kata musibah, kita selalu mendefinisikannya sebagai kejadian buruk dan kesusahan seseorang. Jika kita kembalikan ke akar katanya dari bahasa Arab, musibah berasal dari kata “ashaaba”, “yushiibu”, “mushiibatan“ yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu kaum baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Jadi, mempunyai keluarga bahagia dan harta adalah musibah yang berbentuk kesenangan sekaligus sebuah fitnah (cobaan). Firman Allah swt: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (QS. Al-Mulk: 2)
Kita yakin bahwa sesungguhnya semua yang kita peroleh selama hidup ini adalah datang dari Allah, sekaligus Dia adalah pemiliknya. Adapun kita, hakikatnya, hanya dipinjami sementara dan kelak semua akan kembali lagi kepadaNya. Untuk itulah, apapun yang terjadi dengan diri kita selama hidup di dunia ini, telah ada yang menakarnya dengan cermat; semua sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tidak akan seseorang dibebani di luar kemampuannya, sebagaimana janji Allah swt: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Beban yang telah ditentukan ini tidak hanya berupa kesusahan, tetapi juga kesenangan. Karena kasih sayang Allah-lah sehingga kita benar-benar diberikan segala sesuatu sesuai dengan kemampuan kita.
Hanya, kenyataaanya, kita seringkali kurang atau tidak mempercayai janji Allah di atas. Bentuk dari kekurangan iman kita adalah saat ditimpa musibah kesusahan, kita marah atau berputus asa. Sebaliknya, saat musibah kesenangan, kita lupa diri menjadi sombong, tidak ingat Allah. Dan kita lebih banyak yang gagal saat diberi cobaan berupa musibah kesenangan. Padahal sifat orang yang beriman, sebagaimana yang disifatkan Rasulullah saw: “Sungguh mengagumkan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik untuknya, jika dia mendapat kebahagiaan, maka dia bersyukur, maka itu adalah sebuah kebaikan untuknya. Dan jika dia tertimpa kesengsaraan, maka dia bersabar, maka itu menjadi kebaikan untuknya.” (HR. Muslim).
Kesenangan mempunyai penghasilan yang cukup, dikarunia anak-cucu, tinggal di rumah yang mapan, dan seterusnya. Saat dalam kondisi seperti ini, kita merasa telah bersyukur padahal lalai berjama’ah ke masjid, bersedekah dengan uang receh yang nominalnya paling kecil, koran harian rajin dibaca tetapi al-Qur`an menjadi pajangan, dan seterusnya. Musibah kesenangan ini pula yang sering membuat kita tidak istiqamah, lupa dengan masa-masa sulit. Seperti doa yang biasa dilafadzkan, mendadak menjadi tidak terucap lagi. Akhirnya, kita menjadi takabbur, merasa tidak membutuhkan lagi kepada Dzat yang telah memberi kesenangan tersebut. Padahal, hanya orang yang bersyukur akan ditambah terus kesenangannya dan ancaman siksa yang pedih bagi yang kufur terhadap nikmat. Allah berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7).
Adapun musibah berupa kesusahan dan kesedihan, sebagian kita menganggap hal ini merupakan hukuman dan azab, sehingga selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh. Hingga, pada puncaknya, dapat pula membawa orang berputus asa dan melakukan hal yang dilarang agama. Padahal Allah swt berfirman: “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 39).
Oleh karena itu, musibah kesusahan hidup dalam bentuk apapun, harusnya kita sikapi dengan penuh sabar, ridha, dan syukur. Ketiga istilah ini sekaligus membagi manusia dalam menghadapi musibah menjadi tiga kelompok sesuai dengan kadar keimanannya. Kelompok yang pertama adalah orang yang sabar menghadapi musibah, yaitu orang yang melihat bahwasanya musibah ini berat baginya dan dia tidak menyukainya. Akan tetapi dia tidak larut dalam kesedihan sehingga melupakan apa yang seharusnya diperbuat untuk memperbaiki keadaannya. Semua membawanya kepada kesabaran, tidaklah sama baginya antara ada atau tidak ada musibah, bahkan dia tidak menyukai musibah ini akan tetapi keimanannya melindunginya dari marah. Tentang kesabaran ini, penyair mengatakan: “Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, akan tetapi akibatnya lebih manis dari madu.”
Kelompok yang kedua, adalah orang yang ridha atas musibah yang diterimanya. Ridha atas musibah lebih tinggi derajatnya dari yang bersabar, karena ada atau tidak adanya sebuah musibah adalah sama, karena selalu disandarkan kepada ketentuan (qadha dan qadar) Allah. Walaupun demikian, dia tetap bersedih atas musibah tersebut. Ini karena orang yang ridha meyakini bahwa selama hidup tidak dapat terlepas dari qadha dan qadar Allah, baik itu kemudahan ataupun kesulitan. Jika diberi kenikmatan atau ditimpa musibah, maka semuanya menurut dia adalah sama. Bukan karena hatinya mati, bahkan karena sempurna ridhanya kepada Allah, dia bergerak sesuai dengan kehendak Allah. Inilah perbedaan antara ridha dan sabar.
Dan kelompok ketiga adalah bersyukur atas musibah yang menimpanya. Ini adalah derajat yang paling tinggi, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya. Dia melihat bahwa di lain tempat terdapat musibah yang lebih besar darinya dan musibah dunia lebih ringan daripada musibah agama. Orang yang bersyukur atas ditimpa musibah yakin bahwa adzab dunia lebih ringan daripada adzab akhirat. Kelompok orang yang bersyukur ini melihat musibah ini adalah sebagi sarana dihapuskannya dosa-dosanya dan kadang-kadang untuk menambah kebaikannya, maka dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut. Rasulullah bersabda: “Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Di riwayat yang lain, Rasul mengatakan: “Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan (kelelahan), sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya." (HR. Al-Bukhari). Karena itulah, kadang-kadang akan bertambah iman seseorang dengan musibah yang dialami.
Dengan musibah inilah, Allah menunjukkan rasa sayangNya kepada kita sebagai makhlukNya. Bukankah seorang ibu atau bapak yang marah dan menghukum seorang anak karena kesalahannya, merupakan bukti cinta dan sayang orang tua agar anaknya terhindar dari bahaya yang lebih besar? Adapun Allah, hendaknya kita mengambil hikmah atas segala ketentuanNya. Bagi kelompok orang yang bersyukur di atas, justru bahagia jika ditimpakan kepadanya musibah.
Akhirnya, kita harus selalu berbaik sangka terhadap apapun ketetapan Allah atas diri kita. Apa yang kita anggap terbaik belum tentu baik menurut Allah, begitupun sebaliknya. Dalam ikhtiar mencari jodoh, mengais rezeki, musibah kesenangan atau kesusahan, serta lika-liku hidup di persinggahan dunia sementara ini, semuanya harus disertai sikap sabar, ridha, dan bersyukur. Semoga kita termasuk hamba Allah yang berhasil lulus dari cobaan dan ujianNya di dunia ini dengan imbalan surga di akhirat kelak, amiin.[ Dari tulisan Ustadz Abu Fakhry, di Dammam, Saudi Arabia. Beliau salah satu guru dan panutan saya dalam bidang tulis-menulis, smoga Allah SWT selalu menjaga beliau sehingga terus melahirkan karya-karya yang bermanfaat. Aamiin]
The physicist Robert Oppenheimer, upon witnessing the first test explosion of the atomic bomb he helped develop, famously thought of these words from the Bhagavad-Gita: "Now I am become death, the destroyer of worlds." Gazing upon the far more massive destruction he wreaks on our planet in his end-of-the-world blockbuster, 2012, director Roland Emmerich must feel an analogous awe. But my guess is he'd express this feeling more pithily. "Rad," perhaps. Sixty-five years into the Atomic Age, the end of the world has become the stuff of mass entertainment and collective fantasy, to be enacted and re-enacted on an ever grander scale (perhaps to keep pace with the real-life political and environmental evils that keep giving movies a run for their money).
Emmerich has been Hollywood's foremost eschatologist for over a decade now: In Independence Day, he blew up both the Empire State Building and the White House (or had space aliens do it for him). In The Day After Tomorrow, global warming causes a counterintuitive Ice Age, burying the Statue of Liberty in ice up to her nose. But compared with the world-monument destruction in 2012, these look like trivial mishaps. If a flood-borne aircraft carrier threatens to crush the White House (and its occupant, President Danny Glover) in 2012, you'd best believe it's going to be the USS John F. Kennedy. That's not just any mountain about to get slammed by a tsunami: It's Everest! The chaos is strictly blue-chip in this movie. Emmerich has refined his technique as he ages, pruning away everything that's inessential to his art. No need for occult mumbo-jumbo about the ancient Mayan calendar, which, according to a popular misreading, predicted the world would end in 2012. A quick shot of the ziggurat at Chichen Itza and a 10-second voice-over about mutating neutrinos and solar flares will do the trick. Emmerich doesn't need no stinking Mayans or hostile space aliens. He can submerge the majority of the Earth's landmass all by himself.
Of course, the end of the world would be no fun without people to barely survive it, so Emmerich has assembled a large cast of characters as cannon fodder (or magma-geyser, tidal-wave, and falling-into-deep-crevasse fodder). Chiwetel Ejiofor plays Adrian Helmsley, the president's chief science adviser, who, because of an inside tip from a geologist pal in India, has an early scoop on the coming calamity. He busts into a black-tie event to press an urgent white paper about the situation on Carl Anheuser (Oliver Platt), the president's unctuous chief of staff. In your run-of-the-mill disaster movie, the powers that be would spend the first act doubting the word of the sensitive scientist hero, but Emmerich has no time for that; the Washington Monument isn't going to topple itself. So a cabal of world leaders gets right on the case, building a top-secret fleet of superships (or arks) in which to preserve the remnants of humanity.
In a soon-abandoned stab at social critique, Emmerich and his co-writer Harald Kloser (who also composed the score) make it clear that the ships' occupants will be drawn from the ruling classes—government bigwigs, Saudi billionaires, and Prada-bag-clutching Eurotrash—while the vast hordes of humanity will be left to drown. But one ordinary Joe, a divorced novelist named Jackson Curtis (John Cusack), gets wind of the plan after meeting a conspiracy-theory-spouting hippie (Woody Harrelson) on a trip to Yellowstone. After witnessing enough weirdness at the national park to take the crackpot seriously, Cusack heads back home to convince his ex-wife Kate (Amanda Peet) and her smug new boyfriend Gordon (Tom McCarthy) to leave town with Jackson and Kate's two children. Which they do—though Gordon's fledgling pilot skills are rigorously tested when the runway suddenly turns into a yawning abyss.
The first 20 minutes of world-ending action, as the Curtises make their way from Los Angeles to where the rescue ships are docked in the Himalayas, threaten to get redundant: How many times can a limo jump over a crater, or a single-engine plane shear the top floor off of a high-rise? But somewhere around the one-hour mark, the movie finds its voice—giddy, operatic, deranged—and becomes pure pleasure to watch. There's always a subplot bubbling on a back burner that Emmerich can cut away to—I was particularly fond of the one involving George Segal and Blu Mankuma as grizzled jazz musicians stranded on a cruise ship. There are also Tibetan monks, Russian gangsters and their Prince Charles Spaniel-toting bimbo girlfriends, and the president's foxy daughter played by Thandie Newton, who's helping preserve the world's art treasures for posterity. (Periodically, as characters are discussing escape strategies in the foreground, you'll see Michelangelo's David going by on a hand truck in the distance. Or, in a shot that's at once comic and sublime, a menagerie of zoo animals suspended from helicopters, en route to the Himalayan meetup point.)
As far as I'm concerned, with 2012, Roland Emmerich has sealed the deal. He's the Paul Verhoeven of disaster movies, a deliberately camp artist who's figured out both what our moviegoing hindbrain wants from the disaster-movie experience and how to give it to us uncut by mystical portent or ecological finger-wagging. 2012 isn't a bad movie that, out of sheer boredom, you might snicker at once or twice; it's a two-and-a-half hour laugh riot that plays on our expectations of the genre by anticipating and exceeding them. Like Alexander the Great, Emmerich may now be sitting down and weeping that there are no more worlds to conquer. But there's no need to restrict his destructive genius to one poor beleaguered planet, especially now that they've discovered water on the moon.
The Secret book is filled with ancient wisdom and is taught by modern day teachers. These men and women continue to use The Secret it to achieve health, wealth, and happiness.
The Secret brings to light compelling stories of eradicating disease, acquiring massive wealth, overcoming obstacles, and achieving what many would regard as impossible.
The Secret also reveals how to put the powerful Law of Attraction to work for you. Do you know what the universal Law of Attraction is?
The Law of Attraction is that like attracts like, or in the realm of personal development, the Law of Attraction is that you get what you think about.
You become what you think about!
The Secret by Rhonda Byrne outlines the unlimited rewards which we can achieve when we focus on the positive.
Negative thoughts only get in the way of progress by blocking creativity and leading to depressive modes of behavior and ultimately bad outcomes.
The Secret provides ideas on how to break out of negativity through relaxation and imagination. The Secret has been and continues to be used by great thinkers, inventors and social reformers.
Pagi itu, jam sudah menunjukkan pukul 06.50 WIB. Seperti biasa, di hari Senin pagi suasana jalan raya di kotaku selalu padat. Mungkin karena sebagian besar orang berkendara dengan sedikit atau banyak unsur tergesa-gesa agar tidak telat mengikuti upacara bendera di instansi mereka, salah satunya aku. Entah kenapa bila kita tergesa-gesa justru durasi perjalanan terasa lebih lama sementara sang waktu berjalan begitu cepat. Sedangkan bila sedang menunggu, terasa waktu begitu lambat merapat. Itulah realita berdasarkan perasaan.
Sebagaimana bila kita sedang jatuh cinta, dunia terasa begitu indah, orang yang sedang kita cintai tampak begitu sempurna. Semua kekurangannya tertutup oleh perasaan cinta kita yang teramat subyektif. Namun kalanya benci menghampiri, perasaan terluka, seolah seluruh isi dunia ini mengejek. Sosok orang yang sedang kita benci layaknya seekor monster menyeramkan dan menjijikkan. Seluruh kebaikannya tertutup oleh perasaan benci kita yang teramat dalam dan lagi-lagi subyektif. Sekali lagi, itulah realita berdasarkan perasaan. Tanpa kita sadari acap kali kita berbuat atau berlaku atau berfikir dengan meninggalkan konsep “keseimbangan”, akhirnya yang terjadi adalah terlalu mencintai atau terlalu membenci.
Sungguh, pagi itu perjalanan terasa begitu lambat sementara sang waktu begitu cepat berlalu. Belum lagi…ahh, bertemu dengan Traffic Light. Warna merah menjadi warna paling menyebalkan. Ibarat wajah seekor monster yang mengerikan, menghentikan laju kendaraan kita di tengah perjalanan panjang pada jalan setapak di tengah hutan. Hiiii serem. Tapi bukankah setelah warna merah yang menyala pada Traffic Light itu nantinya juga pasti akan berubah menjadi orange dan kemudian hijau. Artinya perjalanan kita siap dilanjutkan.
Demikian pula dalam hidup ini, selalu saja ada hambatan dan tantangan yang menghentikan langkah perjuangan kita. Memang, saatnya berhenti sejenak untuk menyingkirkan batu sandungan, menaklukkan rintangan, menyelesaikan masalah yang datang menghampiri bukan lari menghindarinya. Berat memang, kadang memuakkan seperti wajah monster itu. Namun bukankan selalu ada harapan lampu merah akan berganti hijau, demikian juga aral yang datang silih berganti selalu ada harapan akan datangnya masa kita bisa bernafas lega untuk kembali melanjutkan perjalanan panjang kehidupan ini.
Akhirnya, meskipun dengan perjalanan yang tergesa-gesa sampai juga di tempat kerjaku, pas Upacara Bendera akan dilaksanakan. Seandainya saja aku lebih bisa mengatur waktu tentunya perjalananku tidak tergesa-gesa begini. Bukankan tergesa-gesa itu sangat tidak baik, sering kali orang celaka karena tergesa-gesa. Untungnya dalam ketergesa-gesaanku hari ini Alloh SWT masih melindungiku.
Tapi aku berjanji pada diriku sendiri untuk belajar mengatur waktuku sendiri. Agar hidup lebih berkualitas karena teratur. Betapa semakin aku sadari, menunda-nunda pekerjaan adalah hal bodoh. Hidup ini terlalu singkat, apa jadinya bila waktu kita biarkan kosong, berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Sang Waktu berjalan begitu cepat, bila kita bersantai-santai kita akan tertinggal jauh. Saat ini juga, saatnya untuk mulai, selagi Traffic Life sedang berwarna hijau, senyampang si monster belum menghampiri kita. Saatnya untuk mempergunakan waktu sebaik-baiknya, hanya untuk hal-hal baik dan bermanfaat saja. Saatnya untuk memperbaiki diri, mencapai kualitas yang lebih tinggi. Jangan tunggu lama-lama, sebab bisa saja sewaktu-waktu Traffic Life berubah merah dan tak pernah kembali lagi ke warna hijau. Artinya waktu kita telah habis. Si monster tak lagi menghentikan perjalanan kita lagi akan tetapi Sang Ajal-lah yang menghentikannya.
Idealya tugas Pustakawan bukanlah sekedar menyelesaikan rentetan proses akuisisi, inventarisasi, klasifikasi, katalogisasi, labelisasi bahan pustaka saja. Akan tetapi, ada sebuah tugas yang tidak kalah pentingnya, yaitu ikut berperan dalam meningkatkan minat baca. Saya -yang adalah seorang pustakawan sekolah- sebenarnya ikut bertanggung jawab dalam upaya peningkatan minat baca siswa. Sebagai seorang muslim yang meyakini bahwa setiap kita akan dituntut terhadap segala tanggung jawabnya (kullukum raa'in wa kullukum masuulun 'an ra'iyyatih) maka, sayapun berusaha keras untuk "bertanggung jawab" terhadap setiap tugas yang dibebankan pada saya dan telah saya sanggupi. Meskipun terkadang hasilnya sangat tidak memuaskan, atau jauh dari target dan tidak sesuai dengan upaya maksimal yang telah kita tempuh selama proses. Tapi, memang inilah hidup, tidak ada yang sempurna kecuali Dia Yang Maha Sempurna.
Terus terang, hari pertama menjejakkan kaki di perpustakaan ini, waktu itu saya kaget bukan kepalang. Menilik betapa rendahnya minat baca siswa di sini. Bahkan untuk sekedar mengenal beberapa item buku baru yang sangat populerpun mereka tidak "ngehh". Astaghfirullahal'adziim. Sedemikian parahnya... Saat itu, seketika terbersit dalam hatiku, hal ini tidak bisa dibiarkan. Saya berfikir untuk menemukan sebuah cara yang mampu saya tempuh untuk membantu meningkatkan minat baca siswa di sini, paling tidak untuk membuat mereka sedikit "sadar" dan peduli terhadap urgensi minat baca dalam proses akademik mereka.
Sebuah PR yang lumayan berat pemecahannya, ibarat sebuah soal matematika kombinasi logaritma, matrix dan persamaan diferensial. Bisa nggak ya ? Mungkin nggak Ya ? Sepulang dari workshop Pustakawan Sekolah Se-Jatim di UIN Sunan Ampel Surabaya, dengan semangat 45 nan berkobar membara, terinspirasi oleh deskripsi beberapa teman dari sekolah di kota lain yang cukup maju, saya menggagas dua kegiatan yang saya harapkan mampu membantu proses peningkatan minat baca siswa. Yaitu : 1) Mading / Majalah Dinding per jurusan yang pelaksanaannya dibawah bimbingan Perpustakaan Sekolah. 2) Pembentukan Klub Baca sebagai salah satu alternatif ekstra kurikuler. Lalu saya kemukakan ide tersebut kepada Koordinator Perpustakaan. Beliaupun sanggup menjembatani ide saya supaya bisa tembus persetujuan Kepsek. Proposalpun saya susun dengan penuh semangat dan besar harapan untuk disetujui. Akan tetapi kekecewaanlah yang harus saya telan, karena sampai saat ini tidak ada kabar dari Kepsek terkait hal tersebut. Begitu saya konfirmasi ke Koordinator, jawaban beliau adalah masih banyak agenda lain yang jauh lebih penting, diantaranya agenda audit dan review ISO 9001-2000. Kecewa dan kecewa, tapi sekali lagi itulah hidup. Saya tidak boleh berhenti sampai di sini saja dan kemudian berputus asa. The show must go on...life doesn't end yet...hingga suatu ketika...
Merujuk pada kata pepatah “Tak ada rotan akarpun jadi.” Yang sekaligus sedikit mengobati kekecewaan saya. Saya menggagas sebuah diskusi kecil, tanpa konsep, sekedar spontanitas. Begitu melihat siswa yang rajin berkunjung ke perpustakaan langsung saya dekati dan saya ajak diskusi dimulai dengan percakapan ringan dengan topik buku-buku bermuatan ringan pula. Seiring waktu, bertambahlah ‘target’ sasaran, bukan hanya siswa yang rajin ke perpustakaan, akan tetapi juga mereka yang jarang kelihatan di perpustakaan. Dan suatu waktu, beberapa ‘target’ tersebut saya ajak berkumpul dan berdiskusi bersama.
Subhanallah…sungguh Allah Maha Pemurah. Sebuah jawaban datang menghampiri kekecewaan di sudut hati, menjadi pelipur lara dan pengobat luka. Sekarang mereka (anggota kelompok kecil diskusi kami) telah menunjukkan peningkatan minat baca. Perpustakaan kami yang cukup besar ini bukan sekedar menjadi tempat koleksi berbagai referensi dan bahan pustaka yang bejibun, akan tetapi, kini pun menjadi tempat diskusi yang mengasyikkan. Buku-buku yang dulunya masih dalam kondisi rapi dan bersih karena tidak pernah dipinjam, kini tidak pernah tampak di etalase, artinya sedang dipinjam. Bila sewaktu-waktu bertemu saya, teman-teman kecil saya ini tak segan-segan memancing saya berdiskusi dengan tema-tema yang mereka sadur dari buku-buku yang mereka baca. Alangkah senangnya hati ini mendengar apa yang mereka bicarakan seputar karya-karya besar seperti Laa Tahzan, Ihya’ Ulumuddin, Being Happy, Mind Energizer, 7 Habits dan buku-buku pengembangan diri lainnya.
Meskipun masih jauh dari hasil yang saya harapkan, akan tetapi paling tidak upaya saya sedikit banyak telah membuahkan hasil. Tidak sia-sialah apa yang telah saya usahakan. Meskipun prosentasenya masih sangat kecil, justru menjadi pemacu semangat saya untuk meneruskan upaya ini.
Saya harapkan di masa datang akan bermunculan Muslimah, Dini, Maulana, Datan, Feri Kusuma, Egar, Wahyudi dan kawan-kawan yang akan tetap menemani saya berdiskusi tentang banyak hal bermula dari buku. Saya ingin, teman-teman kecil ini akan terus bertambah dan bertambah, ikut serta membudayakan membaca. Berawal dari sebuah diskusi kecil untuk mengubah iklim sekolah ini dari yang semula sangat miskin akan budaya baca menjadi sebuah lingkungan yang akrab dengan tema-tema aktual bersumber dari buku.
Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin.








