You're alive. Do something. The directive in life, the moral imperative was so uncomplicated. It could be expressed in single words, not complete sentences. It sounded like this : " Look. Listen. Choose. Act ! "
Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
KENANGAN


Bila kita mengendarai sepeda motor atau menyetir mobil, apakah yang akan kita lakukan terhadap kaca spion? Tentu jawaban kita akan sama yaitu : “Sesekali melihatnya bila perlu”. Yup, that’s right. Kaca spion didesain bukan sebagai aksesoris pelengkap saja, akan tetapi sebagai salah satu bentuk system pengamanan bagi pengendara motor atau mobil. Secara reflek kita melihat kaca spion kendaraan kita ketika ingin mendahului atau hendak memutus (baca:menyeberang) jalan, juga ketika kita mau belok atau memutar arah. Yang jelas, kaca spion sedikit banyak membantu pengendara dalam mengatur kenyamanan dan keamanan saat berkendara. “A small thing, but not least”. Meskipun kecil, tapi bukan hal yang remeh. Namun bukan berarti keselamatan pengendara tergantung pada seberapa sering dia menengok kaca spionnya lho ya, karena dalam eksplorasi segala hal, dibutuhkan aturan main, takaran, porsi yang tepat. Terlalu sering melihat kaca spion justru membahayakan. Karena bisa jadi tidak konsentrasi dengan kondisi jalan di depan kita. Padahal itu lebih penting.


Demikian halnya dengan kenangan-kenangan dalam hidup kita. Baik yang indah maupun buruk, seyogyanya kita sikapi sebagaimana kita menyikapi kaca spion saat kita berkendara. Terlalu larut dalam kenangan masa lalu akan membuat kita tak berkonsentrasi menghadapi masa depan yang jauh lebih penting daripada kenangan itu sendiri. Sebaliknya bila kita menghapus segala bentuk kenangan dalam hidup, kita akan menjadi pribadi yang angkuh. Bukankah dalam peradaban suatu bangsa, peran sejarahnya tidak bisa dianggap sepele? Sejarah ikut menentukan kondisi suatu bangsa saat ini.


Semua orang pasti punya kenangan indah dalam hidupnya. Bisa saja di masa kecilnya, saat remajanya, atau ketika dia beranjak dewasa, atau bahkan saat menua. Diantara sekian banyak kenangan ada yang indah ada yang buruk. Menengok kenangan indah bisa menambah gairah dalam hidup, memacu semangat untuk terus maju. Sedangkan mengingat kenangan buruk bisa dijadikan renungan untuk instrospeksi diri, agar tidak terulang kejadian yang sama di masa datang. Mengenang hal-hal lucu dan kekonyolan di masa lalu bisa menghibur diri sejenak dari kepenatan.


Seperti halnya kaca spion, kenangan-kenangan itu juga mempunyai peran dalam “pengamanan” perjalanan hidup kita. Yaitu menjadikan kita lebih berhati-hati dalam melangkah, menimbang-nimbang lebih seksama dalam mengambil keputusan. Agar kenangan buruk tentang kecerobohan atau ketidak tahuan kita di masa lalu tidak menuai akibat yang sama di masa depan. “ Dulu, aku demikian dan berakibat demikian.” Sehingga kenangan bisa berrfungsi sebagai salah satu neraca dalam kita menimbang setiap pilihan dan keputusan. Kecuali bila kita adalah keledai, karena hanya keledai yang terperosok ke lubang yang sama dua kali. Manusia tidak, karena manusia menimbang salah satunya dengan kenangan, sedangkan keledai tidak punya ingatan tentang kenangan.


Adapula kenangan-kenangan indah yang tak terhapuskan dari “hati”. Kenangan tentang hati yang mencoba saling menawar. Tentang seseorang yang dirasa kehadirannya begitu special dalam perjalanan sejarah hidup kita. Kenangan tersebut bisa “menghidupkan” kembali semangat kita seperti pada saat itu, disaat special person tersebut hadir, menjadi bagian dari kisah kita. Kita tidak perlu menghidupkan kembali “rasa” di hati kita, tapi kita bisa menghidupkan kembali “semangat” yang kita rasakan saat itu.


Perlu diingat, sekali lagi dalam mengeksplorasi kenangan ada takarannya, aturan pakainya, porsi dan batasannya. Jangan sampai over dosis. Karena orang yang mengendarai motor dengan terus-menerus melihat kaca spion sangat berbahaya. Porsi yang berlebihan dalam mengeksplorasi kenangan buruk akan berakibat trauma. Sedangkan mengingat kenangan indah secara berlebihan membuat kita lalai, lengah dan lupa akan masa depan yang lebih menentukan perjalanan kita selanjutnya.


Lalu seberapa porsi dan apa batasan mengeksplorasi kenangan ? Mari kita analogikan saja dengan seberapa sering dan kapan kita perlu menengok kaca spion motor selama kita berkendara. Mari kita jadikan kenangan-kenangan itu seumpama kaca spion yang merupakan salah satu system pengamanan diri dalam perjalanan panjang hidup kita, tentunya agar kita tidak lagi mengulang-ulang kesalahan dan kecerobohan kita di masa lalu untuk masa mendatang.

Category:  
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response.
0 Responses
Leave a Reply