You're alive. Do something. The directive in life, the moral imperative was so uncomplicated. It could be expressed in single words, not complete sentences. It sounded like this : " Look. Listen. Choose. Act ! "
Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
Duhai senangnya...



Idealya tugas Pustakawan bukanlah sekedar menyelesaikan rentetan proses akuisisi, inventarisasi, klasifikasi, katalogisasi, labelisasi bahan pustaka saja. Akan tetapi, ada sebuah tugas yang tidak kalah pentingnya, yaitu ikut berperan dalam meningkatkan minat baca. Saya -yang adalah seorang pustakawan sekolah- sebenarnya ikut bertanggung jawab dalam upaya peningkatan minat baca siswa. Sebagai seorang muslim yang meyakini bahwa setiap kita akan dituntut terhadap segala tanggung jawabnya (kullukum raa'in wa kullukum masuulun 'an ra'iyyatih) maka, sayapun berusaha keras untuk "bertanggung jawab" terhadap setiap tugas yang dibebankan pada saya dan telah saya sanggupi. Meskipun terkadang hasilnya sangat tidak memuaskan, atau jauh dari target dan tidak sesuai dengan upaya maksimal yang telah kita tempuh selama proses. Tapi, memang inilah hidup, tidak ada yang sempurna kecuali Dia Yang Maha Sempurna.


Terus terang, hari pertama menjejakkan kaki di perpustakaan ini, waktu itu saya kaget bukan kepalang. Menilik betapa rendahnya minat baca siswa di sini. Bahkan untuk sekedar mengenal beberapa item buku baru yang sangat populerpun mereka tidak "ngehh". Astaghfirullahal'adziim. Sedemikian parahnya... Saat itu, seketika terbersit dalam hatiku, hal ini tidak bisa dibiarkan. Saya berfikir untuk menemukan sebuah cara yang mampu saya tempuh untuk membantu meningkatkan minat baca siswa di sini, paling tidak untuk membuat mereka sedikit "sadar" dan peduli terhadap urgensi minat baca dalam proses akademik mereka. Ada benang merah antara prestasi akademik dan minat baca, sayangnya hal itu tidak sepenuhnya mereka sadari.


Sebuah PR yang lumayan berat pemecahannya, ibarat sebuah soal matematika kombinasi logaritma, matrix dan persamaan diferensial. Bisa nggak ya ? Mungkin nggak Ya ? Sepulang dari workshop Pustakawan Sekolah Se-Jatim di UIN Sunan Ampel Surabaya, dengan semangat 45 nan berkobar membara, terinspirasi oleh deskripsi beberapa teman dari sekolah di kota lain yang cukup maju, saya menggagas dua kegiatan yang saya harapkan mampu membantu proses peningkatan minat baca siswa. Yaitu : 1) Mading / Majalah Dinding per jurusan yang pelaksanaannya dibawah bimbingan Perpustakaan Sekolah. 2) Pembentukan Klub Baca sebagai salah satu alternatif ekstra kurikuler. Lalu saya kemukakan ide tersebut kepada Koordinator Perpustakaan. Beliaupun sanggup menjembatani ide saya supaya bisa tembus persetujuan Kepsek. Proposalpun saya susun dengan penuh semangat dan besar harapan untuk disetujui. Akan tetapi kekecewaanlah yang harus saya telan, karena sampai saat ini tidak ada kabar dari Kepsek terkait hal tersebut. Begitu saya konfirmasi ke Koordinator, jawaban beliau adalah masih banyak agenda lain yang jauh lebih penting, diantaranya agenda audit dan review ISO 9001-2000. Kecewa dan kecewa, tapi sekali lagi itulah hidup. Saya tidak boleh berhenti sampai di sini saja dan kemudian berputus asa. The show must go on...life doesn't end yet...hingga suatu ketika...


Merujuk pada kata pepatah “Tak ada rotan akarpun jadi.” Yang sekaligus sedikit mengobati kekecewaan saya. Saya menggagas sebuah diskusi kecil, tanpa konsep, sekedar spontanitas. Begitu melihat siswa yang rajin berkunjung ke perpustakaan langsung saya dekati dan saya ajak diskusi dimulai dengan percakapan ringan dengan topik buku-buku bermuatan ringan pula. Seiring waktu, bertambahlah ‘target’ sasaran, bukan hanya siswa yang rajin ke perpustakaan, akan tetapi juga mereka yang jarang kelihatan di perpustakaan. Dan suatu waktu, beberapa ‘target’ tersebut saya ajak berkumpul dan berdiskusi bersama.


Subhanallah…sungguh Allah Maha Pemurah. Sebuah jawaban datang menghampiri kekecewaan di sudut hati, menjadi pelipur lara dan pengobat luka. Sekarang mereka (anggota kelompok kecil diskusi kami) telah menunjukkan peningkatan minat baca. Perpustakaan kami yang cukup besar ini bukan sekedar menjadi tempat koleksi berbagai referensi dan bahan pustaka yang bejibun, akan tetapi, kini pun menjadi tempat diskusi yang mengasyikkan. Buku-buku yang dulunya masih dalam kondisi rapi dan bersih karena tidak pernah dipinjam, kini tidak pernah tampak di etalase, artinya sedang dipinjam. Bila sewaktu-waktu bertemu saya, teman-teman kecil saya ini tak segan-segan memancing saya berdiskusi dengan tema-tema yang mereka sadur dari buku-buku yang mereka baca. Alangkah senangnya hati ini mendengar apa yang mereka bicarakan seputar karya-karya besar seperti Laa Tahzan, Ihya’ Ulumuddin, Being Happy, Mind Energizer, 7 Habits dan buku-buku pengembangan diri lainnya.


Meskipun masih jauh dari hasil yang saya harapkan, akan tetapi paling tidak upaya saya sedikit banyak telah membuahkan hasil. Tidak sia-sialah apa yang telah saya usahakan. Meskipun prosentasenya masih sangat kecil, justru menjadi pemacu semangat saya untuk meneruskan upaya ini.


Saya harapkan di masa datang akan bermunculan Muslimah, Dini, Maulana, Datan, Feri Kusuma, Egar, Wahyudi dan kawan-kawan yang akan tetap menemani saya berdiskusi tentang banyak hal bermula dari buku. Saya ingin, teman-teman kecil ini akan terus bertambah dan bertambah, ikut serta membudayakan membaca. Berawal dari sebuah diskusi kecil untuk mengubah iklim sekolah ini dari yang semula sangat miskin akan budaya baca menjadi sebuah lingkungan yang akrab dengan tema-tema aktual bersumber dari buku.

Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

Category:  
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response.
0 Responses
Leave a Reply