Hari itu, aku menghabiskan Ahad pagiku dengan bersantai, berjalan-jalan di kebun sembari menghirup segarnya udara pagi dan menjadi saksi terbitnya sang mentari. Menikmati sejuknya tetesan embun bergulir di antara dedaun, bercengkrama dengan aneka ragam bunga mekar bersemi, mewangi dihembus sang bayu.
Di tengah perjalananku, aku melihat seekor kepompong di batang pohon Jauhar. Ujungnya berdegup kemudian robek, ohh…ternyata si kupu-kupu kecil hendak membebaskan diri dari belenggu kepompongnya. Setelah sekian hari bersemedi, kini kupu-kupu itu siap menyambut kehidupan barunya yang indah, metamorfosis final dalam sejarahnya. Semula dia hanyalah binatang dengan wujud yang menjijikkan. Ulat, betapa semua orang menjauhinya. Tapi kini sebentar lagi dia akan memiliki rupa yang elok nan menawan, semua orang menyukainya.
Aku mengamati si kupu-kupu kecil yang kesulitan keluar dari kepompongnya. Rupanya lubang itu terlalu sempit untuk dia lewati. Aku perhatikan, sekali lagi aku amati. Hatiku tersentuh untuk membantunya, alangkah kasihan dia. Lalu aku ambil sebuah ranting kecil yang mengering, aku tusukkan pucuk ranting itu ke dinding kepompong untuk memperlebar lubang, si kupu-kupu kecilpun bisa keluar dengan mudah. Aku menunggu perkembangan selanjutnya. Aku ingin menyaksikan euforianya, aku menunggu dia terbang bebas ke angkasa nan tinggi menjulang tanpa batas.
Namun herannya, beberapa saat kemudian, kupu-kupu itu berjalan terseok-seok. Sesekali dia coba kepakkan sayap untuk terbang, tapi tak bisa. Gagal dan gagal lagi. Bahkan kini kulihat dia semakin rapuh, tubuhnya seolah melemah dan rentan. Dia terkapar, terjatuh dari dahan, menggelepar di atas rerumputan. Aku bertanya dalam hati, “ Adakah yang salah dengan tubuhnya?” Lalu kutepikan si kupu-kupu di bawah pohon yang rindang, kasihan sekali dia. Sayangnya aku harus pulang dan kembali bergelut dengan aktifitasku. Kuniatkan untuk menjenguknya lagi esok hari.
Besoknya, pagi-pagi sekali aku menengok si kupu-kupu kecil di kebun. Aku lihat dia tetap tergeletak lemah, tak berdaya. Sayapnya tak mampu mengepak, tubuhnya terkulai lesu. Aku tak bisa berbuat apa. Dalam hati bergemuruh tanya, “Apa yang salah?”
Belakangan baru aku tahu, aku telah berbuat kesalahan fatal. Perbuatan yang tadinya menurutku baik, justru ternyata merupakan sebuah kebodohan. Dengan merobek kulit kepompong untuk melebarkan lubang tempat keluarnya si kupu-kupu, ternyata aku telah merampas proses penguatan sayapnya. Seharusnya, ketika si kupu-kupu keluar dari kepompongnya dengan alami, melewati lubang sempit dengan penuh usaha dan kerja kerasnya, saat itulah terjadinya proses penguatan kedua sayapnya. Lubang kecil itu sudah di setting oleh Sang Maha Pencipta sebagai alat penguat sayap.
“Dengan mengalami kesulitan, kemudian berupaya melewatinya dengan kerja keras si kupu-kupu akan menjadi kuat dan sayapnya akan mengepak, melebar untuk siap terbang menyambut dunia.”
Sebuah pelajaran berharga dari si kupu-kupu. Berbagai cobaan, ujian, tantangan, hambatan yang Alloh SWT berikan dalam hidup kita, adalah proses penguatan pribadi kita.
Ketika teman, kerabat, sahabat kita mengadukan berbagai masalah pada kita, hal itu merupakan proses yang mematangkan kedewasaan kita.
Di kala orang-orang asing datang meminta bantuan kita, saat itulah jiwa kita berproses untuk memahami hakikat dalam cinta kasih.
Orang-orang yang tidak pernah mengalami kesulitan, ibarat si kupu-kupu yang kurobekkan kulit kepompongnya. Akan menjadi pribadi yang lemah, yang selalu mengandalkan orang tua dan kerabatnya,
berlindung di balik tirai bernama keluarga. Padahal tiada yang kekal di dunia. Orang tua, keluarga, ada kalanya lebih dahulu berpulang, jika Sang Azza wa Jalla menghendaki. Kalau demikian, siapa lagi yang akan dia andalkan?
Sesungguhnya, tiada yang bisa kita andalkan kecuali diri kita sendiri, tiada yang bisa kita banggakan kecuali usaha kita sendiri. Dan Alloh-lah sebaik-baik tempat bersandar.
Mungkin Alloh SWT tidak selalu mengabulkan keinginan kita tapi Dia selalu memberikan apa yang kita butuhkan.



