Archives
Desir angin menelisik, mengusik, di antara dedaun berbisik. Sekeping rindu terbungkus rapat, tak beralamat. Namun aku kehilangan sembilan puluh sembilan kata. Dari seratus kata yang telah tersusun.Meninggalkan satu kata yang tak cukup mewakili. Perasaan yang terlempar, terkapar, menggelepar…
Satu kata itu
Ibarat burung yang patah sayapnya. Tenggelam di antara pasir dan bebatuan
Menyelinap dalam barisan kata bertajuk prosa kesunyian, menunggu untuk dibacakan. Seiring kidung kesendirian menanti untuk dilantunkan.
Aku
Melihat kelopak bunga kamboja itu tercabik satu satu. Terbawa arus sungai di musim kemarau. Tak tahu berujung dimana. Burung-burung hinggap di dahan dan ranting
Berkicau riang seperti gelak tawa wanita-wanita nakal, mengejek suasana hatiku yang tak karuan. Tak tau jua hendak berujung dimana
Langkah gontai ini membawaku berdiri di tepian luka yang masih menganga. Luka itu, aku tak tahu siapa dan dengan apa menutupnya. Rasanya, aku ingin berlari, jauh sekali, meninggalkan angan dan mimpi. Tapi kemana???
Di timur dan barat, kujumpai hanya kesunyian, telah lama sekali ingin aku membunuhnya. Bisakah kau pinjami aku belati untuk menghujam dadanya atau kau berikan racun untuk mengakhiri nafasnya. Dan bila aku dapat membunuhnya, tidakkah dia menghantuiku? Atau menghadirkan sahabatnya yang bernama kesendirian untuk kembali menggangguku? Aku tak tahu jawabnya. Sesalku karena prosa ini terlanjur berjudul Prosa Kesunyian.



