Archives
See the curtains hanging in the window
In the evening on a Friday night
A little light shining through the window
Lets me know that everything's all right
Summer breeze, makes me feel fine
Blowing through my mind
Summer breeze, makes me feel fine
Blowing through my…making me feel-right
Making me feel, making me feel fine, makes me feel right
Blowing through the jasmine in my mind
See the paper laying on the sidewalk,
A little music from the house next door... who lives next door?
So I walk on up to the doorstep,
Through the screen and then across the floor
Summer breeze, makes me feel fine
Blowing through my mind
Summer breeze, makes me feel fine
Blowing through my…making me feel-right
Making me feel, making me feel fine, makes me feel right
Blowing through the jasmine in my mind
Oh, sweet days are summer, the jasmine’s in bloom
July is dressed up and playing a tune
And when I come ho-home, from a hard day’s work
And you’re waiting there
Oh yes you’re waiting there, without a care in the world
I see the smile a-waiting in the kitchen
a-Food a-cooking and a-plates a-there for two
You, I see the arms that reach out to hold me
In the evening when the day is through
Summer breeze, makes me feel fine
Blowing through my mind
Summer breeze, makes me feel fine
Blowing through my…making me feel-right
Making me feel, making me feel fine, makes me feel right
Blowing through the jasmine in my mind
Blowing, a-blowing
Blowing through the jasmine in my
Blowing, a-blowing
Blowing through the jasmine in my
Blowing, a-blowing
Blowing through the jasmine in my
Blowing, a-blowing
a-blowing through the jasmine in my mind
Hari ini adalah hari pertama semester ke-dua tahun ke-dua sekolahku di SMU Tunas Bangsa. Hari pertama setelah liburan, wajah-wajah nampak ceria, segar dan penuh semangat.
“Ayu, ada undangan ultahnya Dinda Sabtu depan !” Sapa Ririn, teman sebangkuku sembari menyodorkan undangan berwarna kuning muda berpita magenta.
“Waduh, ada yang ultah lagi..?”Sahutku.
“Iya nih, kok ultah pada bareng-bareng ya, kayak janjian aja.” Seloroh Alin, teman yang tempat duduknya tepat di belakangku, dia keturunan Tionghoa.
“Wah, bisa kering nih kantong buat beli kado melulu.” Lanjut Alin berseloroh dan disambut tawa kami semua.
Yah, baru saja pada saat liburan kemarin dua dari teman kami merayakan ulang tahun dalam waktu yang berdekatan. Tercium juga aroma persaingan dalam perayaan pesta ulang tahun teman-temanku. Maklum lah, ulang tahun yang ke-17, jadi inginnya yang special dan bisa dikenang sepanjang hayat, sepanjang usia. Pesta yang diadakan tak urung menghabiskan biaya yang besar, bahkan ada yang sampai ke nominal jutaan, tentu jumlah yang sangat fantastis bagiku, secara buat bayar SPP saja aku kesulitan.
Avril,merayakan ulang tahun di tanggal 20 Januari lalu. Pestanya cukup meriah diadakan di sebuah café yang memang jadi ikon remaja ABG di kotaku. Malam itu Avril mengenakan gaun warna pink berbahan satin. Indah sekali, apalagi dilengkapi dengan bandana pink bertabur payet putih.
“Eh gaunnya tuh oleh-oleh mamanya dari salah satu butik ternama di
“Pasti harganya mahal ya,
“Ya iya lah, mahal. Masa seharga barang Pasar Kamis…?” Jawab yang berikutnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
Malam itu, ada beberapa teman yang menyanyikan lagu dengan karaoke. Juga Avril sendiri yang menyanyikan lagu “Heaven”nya Dj Sammy. Saat Avril naik ke pentas untuk berkaraoke, papa-mamanyapun ikut mendampingi di atas pentas dan sesekali ikut menyanyi sekenanya. Suasana semakin meriah. Puncaknya adalah sesi pemotongan kue tart oleh Avril dan dia berikan pada orang tuanya. Sungguh acara yang meriah dengan hidangan makanan dan minuman ala café yang asing di lidahku, seperti burger, pizza, mini steak, milk shake dan sebagainya yang memang aku lupa namanya. Bagiku, rasanya lebih nikmat nasi pecelnya mbak Munah yang berjualan di mulut gang masuk ke rumahku. Pastinya rasanya lebih akrab di lidahku. Tapi jujur dalam hati terbersit “ Kapan bisa ulang tahun dengan pesta semeriah ini.”
Melihat teman-temanku yang mengenakan gaun dan berbagai aksesoris yang eleganpun sebenarnya membuat aku minder. Karena untuk menghadiri pesta-pesta seperti ini aku hanya punya dua baju yang itupun aku dapat dari pemberian sepupu jauhku di
Di tanggal 26 nya ganti Diva yang berulang tahun. Kali ini acaranya disetting layaknya pesta kebun. Diadakan di halaman rumahnya yang luas dan penuh bunga dan pohon mangga, juga pohon palem putri. Acara dimulai pagi hari tepat pukul sembilan pagi. Si empunya gawe mengenakan gaun warna putih ala putri salju. Tak beda jauh dari pesta Avril, kali ini dimeriahkan dengan sesi berkaraoke ria. Tapi dilengkapi dengan game seru dan pembagian door prize juga. Tapi menu hidangannya sedikit lebih mentolerir seleraku, yaitu bakso, mie ayam, eskrim dan sebagainya.
“Ayo Yu, jangan malu-malu, ambil aja apa yang kamu suka!” Ririn menghampiriku.
“Iya Yuk, jangan sungkan-sungkan gitu, kita
“Iya, iya…” Jawabku sambil seolah menuruti apa kata mereka berdua. Hari itu aku menyantap bakso dan eskrim.
Sepulang dari pesta itu seperti biasa aku berbagi cerita tentang meriahnya suasana pesta pada ibuku.
“Tadi undangannya banyak banget lho Buk, selain teman-teman ada juga sepupu-sepupu Diva dan keluarganya.”
Tapi ibu hanya tersenyum sambil sesekali menyahut sambil terus menguleni adonan donatnya. Sepeninggal bapak, memang ibuku bertahan dengan penghasilan dari berjualan kue seperti donat, pukis dan pisang molen. Hasilnya yang tak seberapa harus cukup untuk memenuhi kebutuhan kami termasuk biaya sekolah kedua adikku. Sedangkan biaya sekolahku sudah dapat aku penuhi sendiri dengan bayaranku sebagai penjaga warung bibiku sepulang sekolah sampai menjelang maghrib.
“ Buk, tadi makanannya enak-enak, ada bakso, ada eskrim…” Aku berusaha melanjutkan ceritaku sambil membantu membulatkan adonan donat. Tapi ibu hanya tersenyum tanpa satu kata sahutan. Malah adikku yang sedang belajar yang menyahut,
“Enak dong mbak, coba tadi pagi aku ikut…hehehe” Kemudian kami sambut dengan tawa.
“Buk, tadi gaunnya Diva bagus banget, kayak putri aja.” Aku meneruskan ceritaku, tapi lagi dan lagi ibuku hanya tersenyum mendengarnya. Aku jadi berfikir, mungkin aku menceritakan ini semua dalam keadaan yang kurang tepat dan pembicaraanpun aku alihkan.
Malam itu, menjelang tidur, ada suara ketukan pintu kamar. Begitu aku buka ternyata ada ibu mendatangiku. Tidak biasanya ibu mendatangiku menjelang tidur begini. “
Kemudian ibu merangkul tubuhku dan mengajakku duduk di ranjangku yang sederhana ini.
“Ayu sayang…maafkan ibu ya nak…” Kata-kata itu yang keluar dari bibir ibu.
“Memangnya ada apa Bu?” Tanyaku keheranan.
Sambil mengusap rambutku ibu menjawab “ Ibu tahu kamu juga ingin merayakan pesta ulang tahun seperti teman-temanmu, tapi maaf ibu tidak bias mewujudkannya ya nak….”
“Ibu kok ngomongnya gitu, enggak kok bu, nggak apa-apa bu. Yang penting kita semua sehat, itu sudah cukup buat Ayu.” Tak kuasa kumenahan butiran airmata yang berjatuhan. Ibu memelukku erat, beliaupun menangis.
Hari ini, hari pertama di bulan Februari. Sebentar lagi ulang tahunku tepatnya tanggal empat belas nanti. Tapi biarlah, ulang tahunku kali ini sama seperti ulang tahun di tahun-tahun sebelumnya. Hanya jadi renunganku sendiri. Bahkan keluargakupun tak pernah mengingat tanggal tersebut sebagai hari istimewa. Tahun ini, aku harus mengubur keinginanku dalam-dalam. Yaitu keinginan untuk merayakan ulang tahun special, ulang tahun yang ke-17.
Menjelang tanggal yang bagiku hari istimewa itu ibuku malah kelihatan begitu sibuk bekerja. Kebetulan memang lagi banyak pesanan kue. Sedangkan jika malam tiba, ibu langsung masuk ke kamar beliau. Mungkin kelelahan, akhir-akhir ini beliau beristirahat lebih awal. Kalau biasanya menemani kami belajar sampai jam sembilan malam, akhir-akhir ini jam delapan ibu sudah beranjak ke peraduan. Aku dan adik-adikku tidak berani mengganggu karena faham betul akan kelelahan beliau.
Kurang satu hari ulang tahunku. Aku berusaha membujuk hatiku agar menganggap semuanya biasa-biasa saja. Tidak perlu berharap yang berlebihan. Meskipun harus menelan kekecewaan karena di hari spesial tidak ada yang spesial. Biarlah aku pendam semua keinginan dalam hati saja.
Malamnya aku tidur seperti biasa, sekitar jam sembilan malam, sebab esok pagi harus mengantarkan kue-kue dagangan ibu ke warung-warung dengan sepeda tuaku. Tapi malam itu aku bermimpi….
“Ayu, selamat ulang tahun yang ke-17 ya nak…” Ibu mendatangiku, mencium keningku dan memberikan sebuah kado bersampul bunga-bunga.
“Buka nak, coba lihat bagus tidak !” Lalu ibu membantuku membuka bungkusnya.
“Bagus sekali Bu….” Aku takjub melihat sebuah tas indah dalam genggamanku. Sebuah tas berbahan rajut berwarna merah muda dihiasi bunga-bunga merah dan daun hijau. Cantik sekali.
“Buk, pasti mahal harganya ?” Tanyaku.
“Tidak sayang, ibu menyulamnya sendiri, makanya akhir-akhir ini ibu sering sibuk di kamar karena menyelesaikan rajutan ini. Maklum ibu sudah lama tidak merajut, agak-agak lupa, makanya lama membuatnya.”
“Oh, cantik sekali Ibu, terima kasih banyak Bu ya….” Aku mendekap erat tas cantik itu.
“ Ayu sayang, yang terpenting dalam ulang tahun itu bukan pestanya, bukan perayaannya. Tapi renungan terhadap perjalanan hidup kita ini, sudahkah umur yang dikaruniakan oleh Alloh SWT kita pergunakan sebaik-baiknya. Ibu berkata demikian bukan berarti karena ibu tidak bisa merayakan ulang tahunmu nak.”
“Ibu, hadiah ini lebih dari perayaan. Ketulusan ibu menyulam setiap helai benang dalam rajutan ini, padahal ibu dalam keadaan lelah. Ketulusan ibu menyayangi kami bertiga selama ini sudah lebih dari sekedar pesta.” Aku memeluk ibu lagi.
“Terima kasih atas pengertianmu nak.” Ibu kemudian mencium keningku dan melanjutkan kalimatnya.
“Nak, meskipun kita miskin, tapi jangan sampai kita miskin semangat. Ibu bangga melihat semangatmu dan juga adik-adikmu. Ibu bangga dengan prestasi kalian. Ibu yakin suatu saat nanti kamu dan adik-adikmu akan menjadi orang sukses.”
“Amiin…” Sahutku berbarengan dengan suara ibu, lalu kami saling memandang dan tersenyum. Setelah aku cubit tanganku..”Oh,sakit…” Ternyata aku tidak sedang bermimpi.
Mulai saat itu aku belajar menyulam dan merajut. Sementara tas istimewa itu selalu aku pakai pada acara-acara istimewaku. Aku bangga menjadi bagian dari keluarga ini, memiliki ibu seperti ibuku. Single parent yang super fight, mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab juga kemandirian terhadap semua putra-putrinya. Kami memang terbiasa dengan kedisiplinan itu, di mulai dengan bangun menjelang Subuh, seusai menunaikan sholat kamipun langsung berbagi tugas. Aku bertugas mengantarkan kue-kue dagangan ibu, adikku yang nomer dua membantu ibu menyiapkan sarapan pagi, sementara si bontot bertugas membersihkan rumah termasuk menyapu halaman. Rutinitas yang kami tunaikan penuh tanggung jawab.
Itulah kisah ulang tahunku 10 tahun yang lalu, kado terindah dari ibu yang telah menginspirasiku merintis usaha ini. Ya, sekarang aku menggeluti usaha kerajinan berbahan rajut, songket dan sulam. Produksinya berupa tas, topi cantik, perlengkapan bayi dan sebagainya. Bahkan, aku sudah memiliki dua stand di
Alhamdulillah, dari tahun ke tahun bisnis ini mengalami peningkatan. Kini aku sudah bisa merenovasi rumah kami dan membiayai kuliah kedua adikku. Sebuah usaha yang bisa dibilang berhasil. Tapi sayang, ibu tidak bisa menyaksikan keberhasilan ini.
Ibu, sebentar lagi aku akan menikah, berkeluarga dan nantinya akan menjadi orang tua. Aku berjanji, insyaalloh aku akan menjadi seorang ibu yang seperti ibu. Mendidik dengan pola pendidikan seperti yang ibu terapkan pada kami. Terima kasih ibu…
Bekerja sebagai pustakawan itu menyenangkan buatku, bisa baca segala buku semauku, gratisss… Termasuk buku-buku baru yang gaji bulananku gak mungkin cukup untuk beli setiap yang terbit per bulannya. Kalau bosen baca, di sela-sela waktu luang, bisa memanjakan hobi menulisku sepuasnya. Didukung dengan suasana tenang nan sendu, tiada yang mengganggu.
Diantara rutinitas pekerjaan pustakawan yang bejibun, mulai dari proses akuisisi, inventarisasi, klasifikasi, pendataan otomasi, katalogisasi, pelabelan….dst, aku masih punya waktu untuk mengembangkan hobi blogging, masih bisa becanda dengan teman-teman karyawan yang keakrabannya sudah seperti keluarga. Yup…selain sebagai tempat kerjaku, perpustakaan ini memang sudah jadi rumah keduaku.
Pak Yunus, Kepala Perpustakaan yang seperti bapak kami. Sabar dan…apa ya, susah mendeskripsikan pribadi pak Yunus. “Opo tho No…No?!” Kalimat itu yang selalu keluar dari lisan pak Yunus saat menyaksikan tingkah usil Mas Rino ( Kakak tertua kami ). Tapi disini nama pak Yunus lebih dikenal dengan nama Pak Paijo. Sebuah nama yang merupakan ikon Jawa, sesuai
Trus, ada mas Rino. Kakak tertua kami. Si sulung yang lucu, jahil dan adaaaaa aja tingkahnya. Tapi jangan salah, di satu sisi sosok mas Rino ini bisa berubah menjadi pribadi yang so wise, ketika ada yang curhat sama dia. Pokoknya mas Rino itu…pinter, terus biarpun gemuk tapi lincah, rajin bekerja, rajin belajar, pandai mengaji, rajin membantu orang tua, suka menabung dan tidak sombong. Kalo yang satu ini bias dibilang salah alamat, dia itu sarjana teknik sipil yang jago autocad tapi terjerumus ke dunia pustakawan. Anehnya, mas Rino ini punya seorang putra, namanya Wildan. Tapi fisik dan karakternya sama persis ama bokapnya. Atau jangan-jangan hasil cloning kali….( Bcanda choy… )…….
Trus ada si kembar
Trus ada juga tamu-tamu tetap kami :
Lain halnya dengan Ainur Robi’ah Al adawiyah, Kapro Kopsis yang keluar masuk perpus nggak mau ngisi Buku Tamu. Ntar kalau ada pengundian Door Prize nggak kira dapat deh, soalnya nggak pernah ada nama dan tanda tangannya di Buku Tamu. Jangan salahkan kami ya….
Ada lagi Ahmad Affandy alias Pendekar Sendok Derita, habis kemana-mana ngantongin sendok di saku kemejanya kayak Pen Cam gitu, dan gak Cuma sekali dua kali, tapi selalu always gak pernah never. Staf kurikulum yang kerjanya numpang tempat makan melulu kalau ke perpus. Motonya : “Sehat di jantung, sehat di kantong.” Ya iyalah wong kami-kami disini baik, meskipun dia numpang makan disini, kami-kami nggak minta……. Coba kalau kami-kami ini minta’an, gak mungkin sehat dijantung sehat di kantong. Yang ada malah gak sehat dijantung coz dag dig dug melulu, takut dimintain, dan juga gak sehat di kantong coz gak cukup bawa maemannya sebungkus doank. Don’t get it personal ya boy…Principal of Curriculum….
Yang terakhir adalah Edy Kurniawan, si Principal of Engineering yang penggemar berat Jelly Drink rasa orange. Tukang betulin computer yang satu ini lumayan cerewet juga untuk ukuran cowok. Dan…nggak pernah ikut upacara. Menurut pengakuannya, hanya sekali dalam setahun dia ikut upacara yaitu Upacara Hari Isro’ Mi’roj………
Perpustakaanku, tempat kerjaku, rumah keduaku….
Tapi meskipun begitu kenapa ya kalau udah jam 1 siang aku dan mbak Bety selalu saja mengulang dan mengulang pertanyaan yang sama setiap harinya yaitu : “ Bu Yayuk, kita pulang jam berapa ?” Padahal sebenarnya kami berdua udah tau jam pulang kantor adalah jam 2 siang.
Aku masih berdiri di sini, dengan seribu pertanyaan
Mengapa ada senja di antara pagi dan malam
Mengapa ada gerhana di antara matahari dan bulan
Mengapa hanya ada satu hal yang dapat menyatukan
Segala kesenjangan dan perbedaan
Satu hal itu adalah CINTA…
Lalu apakah itu CINTA?
Tanya demi tanya menghempasku bergantian
Satu satu digerai desir meracau di lenguh kosakata nan bungkam
Waktupun koyak oleh harap ..tak jeda di ufuk ..awan runyam
Gembung mengapas meluruhkan hitam
Dan tanya itu menggiringku masuk ke dalam labirin tua
Lorong pekat penuh lembap yang dindingnya berkeropeng dusta
Penuh tipu daya, tiap simpangannya menyesatkan pengelana
Aku ikuti setitik cahaya, dan kulihat jawab di ujungnya
Aku bertanya lantang, “Wahai, apakah itu CINTA?”
Kulihat sepasang muda-mudi bergelayutan mesra
Sang gadis tertawa manja, sang pemuda mengobral kata
Sahutnya, cinta adalah hari ini
Yang tergantikan segera oleh hari esok
Dia adalah kesenangan yang berkelindan selalu
Berduaan, nikmat yang bergantian datang
Aku tercenung, dan terus termenung
Jika cinta adalah pesta pora, lalu apa arti cerita Majnun
Cinta baginya adalah kisaran derita
Tetapi Majnun hanya tahu itu cinta, walau dia buta
Oh, betapa takdir cintanya berakhir nestapa
Aku berpaling dari mereka yang mencemooh nakal
Lalu aku pergi menuju ujung lain lorong teka-teki
Kuikuti suara-suara merdu, tawa, dan musik syahdu
Walau gelap pekat, suara itu menuntunku pasti
Dan akhirnya kulihat panggung megah berdiri kokoh
Dipenuhi penyair dan pujangga sepanjang masa
Dadaku serasa bergolak, aku menyeruak dan berteriak, “Wahai apakah itu CINTA?”
Seorang pujangga menoleh, berdiri, dan menjawab panggilanku lalu mulai bersyair,
Cinta adalah roman tanpa batas
Inspirasi yang takkan mati; Api yang takkan padam
Yang geloranya membuatmu remuk redam
Tapi, bagai kecanduan, kau akan terus menyesapnya
Membuatmu merasa terbang menuju mentari yang menyala perkasa
Sekali lagi, keraguan menyelinap dan membisik
Mestikah begitu, sebab kulihat nyala sangat redup
Menyambangi jalinan pernikahan yang suci
Gairah sejoli telah berakhir, tapi tidak memupus ikatannya
Tapi mereka masih menyebutnya cinta
Walau madunya telah habis, Sang kumbang masih hinggap di atas kembang
Aku melengos tak puas, dan berjalan tak tahu ke mana
Kususuri lorong berliku, begitu panjang jalanan, begitu terjal undakan
Dan pada satu tangganya, kulihat seorang pengemis renta mengharap derma
Dia berkata, “berikanlah milikmu yang terbaik, dan kusampaikan kebijaksanaanku”
Aku sebenarnya tak ingin percaya, tapi kakiku terlalu letih mencari jawab
Kuulurkan sebongkah batu mirah sembari bertanya, “Wahai, apakah itu CINTA?”
Si pengemis diam dalam takzim, dan menjawab,
Cinta adalah menghamba tanpa bertanya
Ketaatan tanpa memerlukan jawaban
Kau memuja, dan menjadikan dirimu budak dengan sukarela
Kata-kata cinta adalah perintah yang tiada terbantah
Aku terpekur dan tak henti berpikir
Jika cinta merupakan penghambaan, lalu apa arti cinta Ilahi?
Dia yang menurunkan hujan, dan lebih agung dari apapun jua
Dia yang memberikan rizki kepada orang paling durjana sekalipun
Dia yang mencintai makhluk-Nya, dan tak memerlukan apapun dari makhluk-Nya
Aku merasa rugi atas permata yang terbuang percuma
Ini bukanlah kebijaksanaan; melainkan kedunguan!
Cinta si pengemis selamanya menjadikan dirinya pengemis
Yang mengiba, meminta, dan mengharap sejumput kasih
Jika ini dinamakan cinta, maka terkutuklah kata cinta!
Aku muak atas pencarian ini, lalu memutuskan keluar
Labirin tua tak lagi mengurungku, dan bau laut seakan memanggilku
Ini adalah aroma kebebasan yang menarik para pemberani
Dan seperti cerita lama, aku berlayar menuju samudera berombak, –sendiri
Angin kencang membantu lajuku, dan kapalku menuju horizon di tapal batas
Mencari dunia baru untuk ditaklukkan
Di ujung dek aku berteriak penuh kegembiraan
Walau kegembiraan itu kadang dibayar oleh rasa hampa di tengah lautan
Oh, tahun-tahun berselang; musim-musim berganti datang
Waktu-penuh-kenangan yang berkandung duka dan suka
Namun, pada suatu hari yang mengejutkan
Badai datang menenggelamkan apa yang tersisa
Aku lihat puing-puing yang karam, dan onggokan
Sementara aku hanyut ditemani tongkang yang terombang-ambing
Entah mengantarkanku ke mana
Di suatu tempat, saat aku membuka mataku
Aku rasai pasir lembut yang harum baunya
Dan riak ombak bermain-main di sekujur tubuhku
Apakah ini tanah orang- orang mati, ataukah aku masih hidup?
Oh, betapa hausnya aku…seteguk air akan mengobatiku
Dan, aku lihat sesosok datang mendekat
Sorot matanya menatapku lekat
Lalu menuangkan seteguk air pada bibirku yang kekeringan sangat
Pandanganku terasa kabur, dan dunia terasa berputar begitu cepat
Aku berharap dia adalah malaikat tak bersayap yang memberikan jawab
Aku merasa maut sebentar lagi menjemput,
Jadi tak ada salahnya bertanya, toh rasa malu akan terbawa lalu
Setelah sekian lama, sekali lagi aku bertanya, “Wahai, apakah itu cinta?”
Dia termangu,dan hanya tersenyum
Untuk menenangkan jiwaku yang sekarat, dia menatapku lembut
Dan kata-kata bagai menetes dari mulutnya
Kata-kata serasa madu yang manisnya teringat selalu, Jawabnya :
CINTA bukanlah benda untuk dimiliki
Tetapi tindakan untuk diperjuangkan
CINTA adalah kebaikan tanpa imbalan
Pernahkah mentari bertanya padamu atas sinarnya yang terang
Hakikat CINTA adalah memberi
Dan pernahkah pepohonan meminta jawaban atas keteduhannya
Jika kau memberikan segelas air pada orang asing,
Dan dia tak berhutang padamu apapun
Itulah CINTA
Bagaikan petani, kau menanam benihnya
Lalu orang lain memakan buahnya, menghilangkan rasa laparnya
Tetap ingatlah, cinta adalah pilihan hatimu
Bukan keterpaksaan dari rasa takut
Sebab cinta tidak pernah membuatmu merasa kehilangan
Dia terus membuat hatimu merasa kaya
Namun, sungguh dunia telah tercerai berai,
Dan manusia menjadi tersesat oleh makna cinta
Tergelincir keserakahan, cinta menjadi memabukkan
Untuk memiliki, bukannya memberikan
Untuk menguasai, bukannya mengasihi
Jika cinta tinggallah nafsu diri belaka
Yang tersisa hanyalah kerusakan semata
Tiada peduli sesama; Semuanya mengagungkan diri jua
Orang menamakannya cinta; tapi itu hanyalah dusta
Hari itu, aku tahu
Bahwa perjalananku bukannya berakhir,
Tetapi baru saja dimulai
Lalu aku mengatup mata
Dan mulai mendoa
Untuk satu pilihan kata di hati
Yaitu CINTA…
Assalamu alaikum...
Hai sobat, maaf lama gak sempat blogging coz coneksi internetq agak lama ngadatnya... baru sempat sekarang blogging lagi....







