You're alive. Do something. The directive in life, the moral imperative was so uncomplicated. It could be expressed in single words, not complete sentences. It sounded like this : " Look. Listen. Choose. Act ! "
Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
MY AMERICAN FRIEND


Jonathan Carmichael, I used to call him Jo, my American friend. Setiap kali datang ke Indonesia dia selalu tertarik untuk mengamati budaya, eksotisme alam serta sosio-culture masyarakat kita. Setiap kali dia menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal tersebut, aku selalu menjawab dengan penuh semangat dan berapi-api, menggambarkan kebanggaanku menjadi bangsa Indonesia. Mulai dari kisah-kisah serial pewayangan dan falsafahnya, syair tembang-tembang Jawa yang sarat makna, sampai pada pantun dan gurindam ala Melayu yang penuh nasihat dan petuah bijak. Alangkah bangganya aku menjadi bagian dari bangsa yang luhur, berbudi pekerti serta mengedepankan adat ketimuran yang santun.

Jonathan pernah bilang, yang dia kagumi dari bangsa ini selain eksotisme alam juga “The Ladies” atau perempuannya. Aku bertanya : “Bukankah American Ladies jauh lebih keren, modern, pintar, cantik, seksi, canggih daripada Indonesian Ladies?” Jonathan answered : “ Bukan dari sisi itu kekagumanku pada perempuan Indonesia, tapi pada cara mereka menghargai diri, menjaga kesucian diri, mensakralkan seks dengan bingkai bernama lembaga pernikahan.” Wow, saya tersenyum bangga mendengar jawaban Jo. Aku bangga menjadi perempuan Indonesia.

Tapi itu dulu…

Karena, kian hari kebanggaanku itu terkikis…

Hingga kian hari aku kian merasa “malu” pada apa yang terjadi pada masyarakatku, pada bangsa yang tadinya aku bangga-banggakan pada teman-temanku dari bangsa lain.

Belum lama kita tertohok oleh video besutan sutradara amatir asal Singapore keturunan India bertajuk Cowboys in Paradise. Di luar bahasan benar tidaknya, tapi bagaimanapun, banyak fakta berbicara bahwa eksotisme Bali dinodai dengan kemaksiatan. Kesucian Bali sebagai ikon spiritualisme bergelar Island of Gods terkoyak, berganti dengan julukan hina, surga bagi para pemaksiyat. Sedih…

Dan kini, sedang hangat-hangatnya, lagi-lagi kita tertohok. Beberapa video mesum beredar luar di dunia maya, ironisnya pelakunya konon adalah para artis papan atas idola kawula muda. Kalau idola mereka berperilaku seperti itu lantas….Ohh betapa miris membayangkan buruk pengaruhnya terhadap perilaku kaum muda. Di sekolah tempatku bekerja, anak-anak usia SMA membicarakan hal itu. Bahkan adikku yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan kebetulan mengidolakan vokalis P**erp** menanyakan banyak hal seputar apa yang dia dengar dari berita di TV. Lagi-lagi, miris…

Bahkan berita-berita buruk tersebut sampai ke manca Negara, nun jauh sampai pula ke telinga Jonathan. Aku tidak bisa menjawab saat dia menanyakan kasus itu. Malu !

Dulunya, sebagai bangsa yang terbelakang secara ekonomi, pengetahuan dan teknologi, juga SDM, setidaknya masih ada yang bisa aku banggakan dari bangsa ini yaitu budi pekerti yang luhur, budaya santun, adat-istiadat ketimuran yang bernilai. Tapi kini, ketika kita semakin tercerabut dari nilai-nilai itu, ibarat pohon yang semakin tercerabut dari akarnya, apalagi yang bisa kita banggakan dari bangsa ini ??? Apakah nasib kita sama seperti pohon itu, terombang-ambing oleh tiupan angin dan terpaan badai.

Bukankan seharusnya segi-segi positif yang bisa kita teladani dari budaya barat, kemajuan pengetahuan dan teknologi, etos dan semangat kerja, kedisiplinan, SDM yang qualified. Ironisnya, kita melupakan segi-segi positif itu, on the contrary malah lebih mudah menyerap hal-hal negative budaya barat seperti gaya hidup materialisik dan free sex. Astaghfirullah…………….

Mari kita renungkan, hal-hal buruk yang lebih menonjol dari bangsa kita di dunia internasional. Peringkat tinggi dalam hal korupsi, grafik meningkat dalam kasus-kasus penyalah gunaan narkoba, aborsi, seks bebas. Dan akhir-akhir ini bermunculan bintang-bintang porno. It’s time to stop it ! Tidak mudah membenahi sosio-culture masyarakat yang telah rusak karena segenap pihak harus bekerja sama, tapi at least kita bisa mulai dari hal terkecil di sekeliling kita, kita mulai dari diri kita sendiri, kita mulai saat ini juga. Saatnya kembali menancapkan diri pada akar kita, budaya ketimuran yang adiluhur, serta yang terpenting adalah relijiusitas sebagai kontrol diri.

For Indonesian Ladies, siapa lagi yang bisa menghargai diri kita selain diri kita sendiri, perilaku kita sendiri. Jangan mengharapkan orang lain menghargai kita kalau kita sendiri tidak bisa menjaga kehormatan kita sendiri.

This is what I want to write, not for my American friend, Jonathan Carmichael only, but also for all my Indonesian friends.

Category:  
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response.
0 Responses
Leave a Reply