Pagi itu, jam sudah menunjukkan pukul 06.50 WIB. Seperti biasa, di hari Senin pagi suasana jalan raya di kotaku selalu padat. Mungkin karena sebagian besar orang berkendara dengan sedikit atau banyak unsur tergesa-gesa agar tidak telat mengikuti upacara bendera di instansi mereka, salah satunya aku. Entah kenapa bila kita tergesa-gesa justru durasi perjalanan terasa lebih lama sementara sang waktu berjalan begitu cepat. Sedangkan bila sedang menunggu, terasa waktu begitu lambat merapat. Itulah realita berdasarkan perasaan.
Sebagaimana bila kita sedang jatuh cinta, dunia terasa begitu indah, orang yang sedang kita cintai tampak begitu sempurna. Semua kekurangannya tertutup oleh perasaan cinta kita yang teramat subyektif. Namun kalanya benci menghampiri, perasaan terluka, seolah seluruh isi dunia ini mengejek. Sosok orang yang sedang kita benci layaknya seekor monster menyeramkan dan menjijikkan. Seluruh kebaikannya tertutup oleh perasaan benci kita yang teramat dalam dan lagi-lagi subyektif. Sekali lagi, itulah realita berdasarkan perasaan. Tanpa kita sadari acap kali kita berbuat atau berlaku atau berfikir dengan meninggalkan konsep “keseimbangan”, akhirnya yang terjadi adalah terlalu mencintai atau terlalu membenci.
Sungguh, pagi itu perjalanan terasa begitu lambat sementara sang waktu begitu cepat berlalu. Belum lagi…ahh, bertemu dengan Traffic Light. Warna merah menjadi warna paling menyebalkan. Ibarat wajah seekor monster yang mengerikan, menghentikan laju kendaraan kita di tengah perjalanan panjang pada jalan setapak di tengah hutan. Hiiii serem. Tapi bukankah setelah warna merah yang menyala pada Traffic Light itu nantinya juga pasti akan berubah menjadi orange dan kemudian hijau. Artinya perjalanan kita siap dilanjutkan.
Demikian pula dalam hidup ini, selalu saja ada hambatan dan tantangan yang menghentikan langkah perjuangan kita. Memang, saatnya berhenti sejenak untuk menyingkirkan batu sandungan, menaklukkan rintangan, menyelesaikan masalah yang datang menghampiri bukan lari menghindarinya. Berat memang, kadang memuakkan seperti wajah monster itu. Namun bukankan selalu ada harapan lampu merah akan berganti hijau, demikian juga aral yang datang silih berganti selalu ada harapan akan datangnya masa kita bisa bernafas lega untuk kembali melanjutkan perjalanan panjang kehidupan ini.
Akhirnya, meskipun dengan perjalanan yang tergesa-gesa sampai juga di tempat kerjaku, pas Upacara Bendera akan dilaksanakan. Seandainya saja aku lebih bisa mengatur waktu tentunya perjalananku tidak tergesa-gesa begini. Bukankan tergesa-gesa itu sangat tidak baik, sering kali orang celaka karena tergesa-gesa. Untungnya dalam ketergesa-gesaanku hari ini Alloh SWT masih melindungiku.
Tapi aku berjanji pada diriku sendiri untuk belajar mengatur waktuku sendiri. Agar hidup lebih berkualitas karena teratur. Betapa semakin aku sadari, menunda-nunda pekerjaan adalah hal bodoh. Hidup ini terlalu singkat, apa jadinya bila waktu kita biarkan kosong, berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Sang Waktu berjalan begitu cepat, bila kita bersantai-santai kita akan tertinggal jauh. Saat ini juga, saatnya untuk mulai, selagi Traffic Life sedang berwarna hijau, senyampang si monster belum menghampiri kita. Saatnya untuk mempergunakan waktu sebaik-baiknya, hanya untuk hal-hal baik dan bermanfaat saja. Saatnya untuk memperbaiki diri, mencapai kualitas yang lebih tinggi. Jangan tunggu lama-lama, sebab bisa saja sewaktu-waktu Traffic Life berubah merah dan tak pernah kembali lagi ke warna hijau. Artinya waktu kita telah habis. Si monster tak lagi menghentikan perjalanan kita lagi akan tetapi Sang Ajal-lah yang menghentikannya.



