Bekerja sebagai pustakawan itu menyenangkan buatku, bisa baca segala buku semauku, gratisss… Termasuk buku-buku baru yang gaji bulananku gak mungkin cukup untuk beli setiap yang terbit per bulannya. Kalau bosen baca, di sela-sela waktu luang, bisa memanjakan hobi menulisku sepuasnya. Didukung dengan suasana tenang nan sendu, tiada yang mengganggu.
Diantara rutinitas pekerjaan pustakawan yang bejibun, mulai dari proses akuisisi, inventarisasi, klasifikasi, pendataan otomasi, katalogisasi, pelabelan….dst, aku masih punya waktu untuk mengembangkan hobi blogging, masih bisa becanda dengan teman-teman karyawan yang keakrabannya sudah seperti keluarga. Yup…selain sebagai tempat kerjaku, perpustakaan ini memang sudah jadi rumah keduaku.
Pak Yunus, Kepala Perpustakaan yang seperti bapak kami. Sabar dan…apa ya, susah mendeskripsikan pribadi pak Yunus. “Opo tho No…No?!” Kalimat itu yang selalu keluar dari lisan pak Yunus saat menyaksikan tingkah usil Mas Rino ( Kakak tertua kami ). Tapi disini nama pak Yunus lebih dikenal dengan nama Pak Paijo. Sebuah nama yang merupakan ikon Jawa, sesuai
Trus, ada mas Rino. Kakak tertua kami. Si sulung yang lucu, jahil dan adaaaaa aja tingkahnya. Tapi jangan salah, di satu sisi sosok mas Rino ini bisa berubah menjadi pribadi yang so wise, ketika ada yang curhat sama dia. Pokoknya mas Rino itu…pinter, terus biarpun gemuk tapi lincah, rajin bekerja, rajin belajar, pandai mengaji, rajin membantu orang tua, suka menabung dan tidak sombong. Kalo yang satu ini bias dibilang salah alamat, dia itu sarjana teknik sipil yang jago autocad tapi terjerumus ke dunia pustakawan. Anehnya, mas Rino ini punya seorang putra, namanya Wildan. Tapi fisik dan karakternya sama persis ama bokapnya. Atau jangan-jangan hasil cloning kali….( Bcanda choy… )…….
Trus ada si kembar
Trus ada juga tamu-tamu tetap kami :
Lain halnya dengan Ainur Robi’ah Al adawiyah, Kapro Kopsis yang keluar masuk perpus nggak mau ngisi Buku Tamu. Ntar kalau ada pengundian Door Prize nggak kira dapat deh, soalnya nggak pernah ada nama dan tanda tangannya di Buku Tamu. Jangan salahkan kami ya….
Ada lagi Ahmad Affandy alias Pendekar Sendok Derita, habis kemana-mana ngantongin sendok di saku kemejanya kayak Pen Cam gitu, dan gak Cuma sekali dua kali, tapi selalu always gak pernah never. Staf kurikulum yang kerjanya numpang tempat makan melulu kalau ke perpus. Motonya : “Sehat di jantung, sehat di kantong.” Ya iyalah wong kami-kami disini baik, meskipun dia numpang makan disini, kami-kami nggak minta……. Coba kalau kami-kami ini minta’an, gak mungkin sehat dijantung sehat di kantong. Yang ada malah gak sehat dijantung coz dag dig dug melulu, takut dimintain, dan juga gak sehat di kantong coz gak cukup bawa maemannya sebungkus doank. Don’t get it personal ya boy…Principal of Curriculum….
Yang terakhir adalah Edy Kurniawan, si Principal of Engineering yang penggemar berat Jelly Drink rasa orange. Tukang betulin computer yang satu ini lumayan cerewet juga untuk ukuran cowok. Dan…nggak pernah ikut upacara. Menurut pengakuannya, hanya sekali dalam setahun dia ikut upacara yaitu Upacara Hari Isro’ Mi’roj………
Perpustakaanku, tempat kerjaku, rumah keduaku….
Tapi meskipun begitu kenapa ya kalau udah jam 1 siang aku dan mbak Bety selalu saja mengulang dan mengulang pertanyaan yang sama setiap harinya yaitu : “ Bu Yayuk, kita pulang jam berapa ?” Padahal sebenarnya kami berdua udah tau jam pulang kantor adalah jam 2 siang.



