Hari ini adalah hari pertama semester ke-dua tahun ke-dua sekolahku di SMU Tunas Bangsa. Hari pertama setelah liburan, wajah-wajah nampak ceria, segar dan penuh semangat.
“Ayu, ada undangan ultahnya Dinda Sabtu depan !” Sapa Ririn, teman sebangkuku sembari menyodorkan undangan berwarna kuning muda berpita magenta.
“Waduh, ada yang ultah lagi..?”Sahutku.
“Iya nih, kok ultah pada bareng-bareng ya, kayak janjian aja.” Seloroh Alin, teman yang tempat duduknya tepat di belakangku, dia keturunan Tionghoa.
“Wah, bisa kering nih kantong buat beli kado melulu.” Lanjut Alin berseloroh dan disambut tawa kami semua.
Yah, baru saja pada saat liburan kemarin dua dari teman kami merayakan ulang tahun dalam waktu yang berdekatan. Tercium juga aroma persaingan dalam perayaan pesta ulang tahun teman-temanku. Maklum lah, ulang tahun yang ke-17, jadi inginnya yang special dan bisa dikenang sepanjang hayat, sepanjang usia. Pesta yang diadakan tak urung menghabiskan biaya yang besar, bahkan ada yang sampai ke nominal jutaan, tentu jumlah yang sangat fantastis bagiku, secara buat bayar SPP saja aku kesulitan.
Avril,merayakan ulang tahun di tanggal 20 Januari lalu. Pestanya cukup meriah diadakan di sebuah café yang memang jadi ikon remaja ABG di kotaku. Malam itu Avril mengenakan gaun warna pink berbahan satin. Indah sekali, apalagi dilengkapi dengan bandana pink bertabur payet putih.
“Eh gaunnya tuh oleh-oleh mamanya dari salah satu butik ternama di
“Pasti harganya mahal ya,
“Ya iya lah, mahal. Masa seharga barang Pasar Kamis…?” Jawab yang berikutnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
Malam itu, ada beberapa teman yang menyanyikan lagu dengan karaoke. Juga Avril sendiri yang menyanyikan lagu “Heaven”nya Dj Sammy. Saat Avril naik ke pentas untuk berkaraoke, papa-mamanyapun ikut mendampingi di atas pentas dan sesekali ikut menyanyi sekenanya. Suasana semakin meriah. Puncaknya adalah sesi pemotongan kue tart oleh Avril dan dia berikan pada orang tuanya. Sungguh acara yang meriah dengan hidangan makanan dan minuman ala café yang asing di lidahku, seperti burger, pizza, mini steak, milk shake dan sebagainya yang memang aku lupa namanya. Bagiku, rasanya lebih nikmat nasi pecelnya mbak Munah yang berjualan di mulut gang masuk ke rumahku. Pastinya rasanya lebih akrab di lidahku. Tapi jujur dalam hati terbersit “ Kapan bisa ulang tahun dengan pesta semeriah ini.”
Melihat teman-temanku yang mengenakan gaun dan berbagai aksesoris yang eleganpun sebenarnya membuat aku minder. Karena untuk menghadiri pesta-pesta seperti ini aku hanya punya dua baju yang itupun aku dapat dari pemberian sepupu jauhku di
Di tanggal 26 nya ganti Diva yang berulang tahun. Kali ini acaranya disetting layaknya pesta kebun. Diadakan di halaman rumahnya yang luas dan penuh bunga dan pohon mangga, juga pohon palem putri. Acara dimulai pagi hari tepat pukul sembilan pagi. Si empunya gawe mengenakan gaun warna putih ala putri salju. Tak beda jauh dari pesta Avril, kali ini dimeriahkan dengan sesi berkaraoke ria. Tapi dilengkapi dengan game seru dan pembagian door prize juga. Tapi menu hidangannya sedikit lebih mentolerir seleraku, yaitu bakso, mie ayam, eskrim dan sebagainya.
“Ayo Yu, jangan malu-malu, ambil aja apa yang kamu suka!” Ririn menghampiriku.
“Iya Yuk, jangan sungkan-sungkan gitu, kita
“Iya, iya…” Jawabku sambil seolah menuruti apa kata mereka berdua. Hari itu aku menyantap bakso dan eskrim.
Sepulang dari pesta itu seperti biasa aku berbagi cerita tentang meriahnya suasana pesta pada ibuku.
“Tadi undangannya banyak banget lho Buk, selain teman-teman ada juga sepupu-sepupu Diva dan keluarganya.”
Tapi ibu hanya tersenyum sambil sesekali menyahut sambil terus menguleni adonan donatnya. Sepeninggal bapak, memang ibuku bertahan dengan penghasilan dari berjualan kue seperti donat, pukis dan pisang molen. Hasilnya yang tak seberapa harus cukup untuk memenuhi kebutuhan kami termasuk biaya sekolah kedua adikku. Sedangkan biaya sekolahku sudah dapat aku penuhi sendiri dengan bayaranku sebagai penjaga warung bibiku sepulang sekolah sampai menjelang maghrib.
“ Buk, tadi makanannya enak-enak, ada bakso, ada eskrim…” Aku berusaha melanjutkan ceritaku sambil membantu membulatkan adonan donat. Tapi ibu hanya tersenyum tanpa satu kata sahutan. Malah adikku yang sedang belajar yang menyahut,
“Enak dong mbak, coba tadi pagi aku ikut…hehehe” Kemudian kami sambut dengan tawa.
“Buk, tadi gaunnya Diva bagus banget, kayak putri aja.” Aku meneruskan ceritaku, tapi lagi dan lagi ibuku hanya tersenyum mendengarnya. Aku jadi berfikir, mungkin aku menceritakan ini semua dalam keadaan yang kurang tepat dan pembicaraanpun aku alihkan.
Malam itu, menjelang tidur, ada suara ketukan pintu kamar. Begitu aku buka ternyata ada ibu mendatangiku. Tidak biasanya ibu mendatangiku menjelang tidur begini. “
Kemudian ibu merangkul tubuhku dan mengajakku duduk di ranjangku yang sederhana ini.
“Ayu sayang…maafkan ibu ya nak…” Kata-kata itu yang keluar dari bibir ibu.
“Memangnya ada apa Bu?” Tanyaku keheranan.
Sambil mengusap rambutku ibu menjawab “ Ibu tahu kamu juga ingin merayakan pesta ulang tahun seperti teman-temanmu, tapi maaf ibu tidak bias mewujudkannya ya nak….”
“Ibu kok ngomongnya gitu, enggak kok bu, nggak apa-apa bu. Yang penting kita semua sehat, itu sudah cukup buat Ayu.” Tak kuasa kumenahan butiran airmata yang berjatuhan. Ibu memelukku erat, beliaupun menangis.
Hari ini, hari pertama di bulan Februari. Sebentar lagi ulang tahunku tepatnya tanggal empat belas nanti. Tapi biarlah, ulang tahunku kali ini sama seperti ulang tahun di tahun-tahun sebelumnya. Hanya jadi renunganku sendiri. Bahkan keluargakupun tak pernah mengingat tanggal tersebut sebagai hari istimewa. Tahun ini, aku harus mengubur keinginanku dalam-dalam. Yaitu keinginan untuk merayakan ulang tahun special, ulang tahun yang ke-17.
Menjelang tanggal yang bagiku hari istimewa itu ibuku malah kelihatan begitu sibuk bekerja. Kebetulan memang lagi banyak pesanan kue. Sedangkan jika malam tiba, ibu langsung masuk ke kamar beliau. Mungkin kelelahan, akhir-akhir ini beliau beristirahat lebih awal. Kalau biasanya menemani kami belajar sampai jam sembilan malam, akhir-akhir ini jam delapan ibu sudah beranjak ke peraduan. Aku dan adik-adikku tidak berani mengganggu karena faham betul akan kelelahan beliau.
Kurang satu hari ulang tahunku. Aku berusaha membujuk hatiku agar menganggap semuanya biasa-biasa saja. Tidak perlu berharap yang berlebihan. Meskipun harus menelan kekecewaan karena di hari spesial tidak ada yang spesial. Biarlah aku pendam semua keinginan dalam hati saja.
Malamnya aku tidur seperti biasa, sekitar jam sembilan malam, sebab esok pagi harus mengantarkan kue-kue dagangan ibu ke warung-warung dengan sepeda tuaku. Tapi malam itu aku bermimpi….
“Ayu, selamat ulang tahun yang ke-17 ya nak…” Ibu mendatangiku, mencium keningku dan memberikan sebuah kado bersampul bunga-bunga.
“Buka nak, coba lihat bagus tidak !” Lalu ibu membantuku membuka bungkusnya.
“Bagus sekali Bu….” Aku takjub melihat sebuah tas indah dalam genggamanku. Sebuah tas berbahan rajut berwarna merah muda dihiasi bunga-bunga merah dan daun hijau. Cantik sekali.
“Buk, pasti mahal harganya ?” Tanyaku.
“Tidak sayang, ibu menyulamnya sendiri, makanya akhir-akhir ini ibu sering sibuk di kamar karena menyelesaikan rajutan ini. Maklum ibu sudah lama tidak merajut, agak-agak lupa, makanya lama membuatnya.”
“Oh, cantik sekali Ibu, terima kasih banyak Bu ya….” Aku mendekap erat tas cantik itu.
“ Ayu sayang, yang terpenting dalam ulang tahun itu bukan pestanya, bukan perayaannya. Tapi renungan terhadap perjalanan hidup kita ini, sudahkah umur yang dikaruniakan oleh Alloh SWT kita pergunakan sebaik-baiknya. Ibu berkata demikian bukan berarti karena ibu tidak bisa merayakan ulang tahunmu nak.”
“Ibu, hadiah ini lebih dari perayaan. Ketulusan ibu menyulam setiap helai benang dalam rajutan ini, padahal ibu dalam keadaan lelah. Ketulusan ibu menyayangi kami bertiga selama ini sudah lebih dari sekedar pesta.” Aku memeluk ibu lagi.
“Terima kasih atas pengertianmu nak.” Ibu kemudian mencium keningku dan melanjutkan kalimatnya.
“Nak, meskipun kita miskin, tapi jangan sampai kita miskin semangat. Ibu bangga melihat semangatmu dan juga adik-adikmu. Ibu bangga dengan prestasi kalian. Ibu yakin suatu saat nanti kamu dan adik-adikmu akan menjadi orang sukses.”
“Amiin…” Sahutku berbarengan dengan suara ibu, lalu kami saling memandang dan tersenyum. Setelah aku cubit tanganku..”Oh,sakit…” Ternyata aku tidak sedang bermimpi.
Mulai saat itu aku belajar menyulam dan merajut. Sementara tas istimewa itu selalu aku pakai pada acara-acara istimewaku. Aku bangga menjadi bagian dari keluarga ini, memiliki ibu seperti ibuku. Single parent yang super fight, mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab juga kemandirian terhadap semua putra-putrinya. Kami memang terbiasa dengan kedisiplinan itu, di mulai dengan bangun menjelang Subuh, seusai menunaikan sholat kamipun langsung berbagi tugas. Aku bertugas mengantarkan kue-kue dagangan ibu, adikku yang nomer dua membantu ibu menyiapkan sarapan pagi, sementara si bontot bertugas membersihkan rumah termasuk menyapu halaman. Rutinitas yang kami tunaikan penuh tanggung jawab.
Itulah kisah ulang tahunku 10 tahun yang lalu, kado terindah dari ibu yang telah menginspirasiku merintis usaha ini. Ya, sekarang aku menggeluti usaha kerajinan berbahan rajut, songket dan sulam. Produksinya berupa tas, topi cantik, perlengkapan bayi dan sebagainya. Bahkan, aku sudah memiliki dua stand di
Alhamdulillah, dari tahun ke tahun bisnis ini mengalami peningkatan. Kini aku sudah bisa merenovasi rumah kami dan membiayai kuliah kedua adikku. Sebuah usaha yang bisa dibilang berhasil. Tapi sayang, ibu tidak bisa menyaksikan keberhasilan ini.
Ibu, sebentar lagi aku akan menikah, berkeluarga dan nantinya akan menjadi orang tua. Aku berjanji, insyaalloh aku akan menjadi seorang ibu yang seperti ibu. Mendidik dengan pola pendidikan seperti yang ibu terapkan pada kami. Terima kasih ibu…



